Bank of Japan (BOJ) memperluas eksperimen penyelesaian berbasis blockchain untuk cadangan bank sentral, di saat Jepang masih menimbang langkah besar berikutnya terkait mata uang digital ritel. Dalam pidato Gubernur Kazuo Ueda berjudul “Ekosistem Keuangan Baru dan Peran Bank Sentral” pada awal Maret, BOJ menjelaskan bahwa mereka menjalankan proyek sandbox guna menguji bagaimana uang bank sentral dalam bentuk simpanan giro bisa dipakai untuk penyelesaian pada sistem yang memanfaatkan blockchain. Pengumuman ini datang ketika program percontohan CBDC ritel—yang dimulai setelah tahap eksperimen pada 2021 dan memasuki fase pilot pada 2023—masih berlanjut, tanpa komitmen final bahwa yen digital untuk publik akan diterbitkan. Di tengah percepatan keuangan digital dan tuntutan transaksi elektronik yang makin real time, uji coba ini diposisikan sebagai pekerjaan infrastruktur: menguji kompatibilitas dengan sistem yang sudah berjalan, memeriksa skenario penyelesaian antarbank domestik, hingga settlement sekuritas. Di sektor yang kian dipenuhi inovasi teknologi finansial, pertanyaannya bergeser dari “perlu atau tidak” menjadi “siap atau belum” bagi sistem pembayaran yang beroperasi 24 jam.
Bank Jepang memperluas sandbox blockchain untuk penyelesaian cadangan bank sentral
Dalam penjelasan Ueda, inti dari proyek baru ini adalah eksperimen teknis penyelesaian menggunakan uang bank sentral dalam bentuk simpanan rekening giro pada jaringan yang memanfaatkan blockchain. Fokusnya bukan mengganti seluruh rel pembayaran, melainkan menguji bagaimana settlement bisa terjadi lebih cepat sambil tetap terhubung dengan infrastruktur yang sudah ada—sebuah isu klasik dalam digitalisasi bank ketika sistem lama harus hidup berdampingan dengan arsitektur baru.
BOJ juga menyebut akan menguji metode koneksi dengan sistem yang ada dan menilai kasus penggunaan seperti penyelesaian antarbank domestik serta penyelesaian sekuritas. Para analis menilai pendekatan ini bisa membuka jalan bagi penyelesaian yang mendekati instan dan tersedia 24 jam, sekaligus mengurangi risiko kemacetan saat pasar berada dalam kondisi tertekan—masalah yang biasanya muncul ketika volume transaksi melonjak dan likuiditas mengetat.
Di sisi industri, eksperimen semacam ini sering diperlakukan sebagai “uji ketahanan” atas rantai operasional: dari rekonsiliasi, pengelolaan likuiditas intrahari, hingga kontrol risiko. Bagi bank-bank yang selama ini mengandalkan proses batch dan jam operasional terbatas, arah ini berpotensi mengubah ritme kerja treasury dan back office, serta mempercepat adopsi mata uang elektronik dalam skema antar-lembaga. Pada titik ini, BOJ menempatkan inovasi sebagai pekerjaan teknis yang disiplin, bukan sekadar wacana.

Eksperimen CBDC ritel tetap berjalan, namun yen digital belum diputuskan
Berbeda dari proyek settlement grosir, BOJ menegaskan bahwa upaya CBDC ritel masih berjalan melalui program percontohan yang melibatkan perbankan. Kerangka besarnya adalah menyiapkan kemampuan menyediakan bentuk digital dari uang tunai apabila masyarakat luas membutuhkannya, sembari menguji aspek teknis yang menyertai distribusi dan operasional harian.
Jepang memulai eksperimen CBDC pada 2021 dan meluncurkan program percontohan pada 2023. Meski begitu, BOJ belum menyatakan komitmen untuk menerbitkan yen digital ritel. Peta jalannya, sebagaimana kerap terjadi pada bank sentral, bergerak bertahap: menguji desain teknis, mengevaluasi dampak pada stabilitas keuangan, dan menilai apakah manfaatnya mengungguli biaya transisi.
Di lapangan, dinamika sistem pembayaran Jepang juga berubah lewat perluasan kanal non-tunai dan kebiasaan konsumen yang semakin mengandalkan transaksi elektronik. Namun CBDC ritel bukan sekadar “aplikasi baru”; ia menyentuh peran uang publik di era platform, termasuk bagaimana uang bank sentral berinteraksi dengan produk swasta, dari dompet digital hingga layanan perbankan mobile. Diskusi ini juga bersinggungan dengan isu lain di ekonomi digital, seperti kebutuhan pelacakan dan pengukuran yang akurat dalam layanan berbasis data—sebuah tema yang kerap muncul dalam ekosistem platform, misalnya ketika industri membahas pelacakan konversi di Meta sebagai contoh bagaimana infrastruktur digital menuntut standar teknis yang jelas.
Jika eksperimen grosir menguji “rel” antarbank, maka CBDC ritel menguji “uang” untuk masyarakat. Kedua jalur ini berjalan paralel, dan keputusan akhirnya akan sangat bergantung pada kesiapan operasional serta risiko yang dapat dikelola.
Project Agorá dan tren tokenisasi mendorong pembayaran lintas batas
Dalam pidatonya, Ueda juga menyinggung Project Agorá, sebuah eksperimen internasional yang melibatkan beberapa bank sentral dan institusi keuangan swasta besar. Menurut BOJ, para peserta mempertimbangkan mekanisme agar bank sentral—termasuk BOJ—dapat menerbitkan uang bank sentral sebagai deposito tokenisasi di blockchain. Jika berhasil, inisiatif ini disebut dapat mempermudah pembayaran lintas batas melalui inovasi pada mekanisme settlement.
Penting dicatat, deposito bank sentral yang ditokenisasi ini berbeda dari CBDC ritel. Yang pertama berorientasi grosir: uang bank sentral untuk lembaga keuangan pada infrastruktur berbasis blockchain. Yang kedua ditujukan sebagai bentuk digital yen yang bisa diakses publik. Pembedaan ini krusial karena konsekuensinya juga berbeda—dari tata kelola akses, desain privasi, hingga dampaknya pada bank komersial.
Langkah BOJ juga sejalan dengan tren internasional: penggunaan blockchain dalam penerbitan atau pengelolaan instrumen negara mulai diuji di berbagai yurisdiksi, termasuk keputusan di Inggris dan Hong Kong untuk menerbitkan utang pemerintah di blockchain. Bagi sektor teknologi finansial, sinyalnya jelas: otoritas moneter tidak hanya mengawasi inovasi, tetapi ikut menguji infrastruktur yang dapat mengubah cara penyelesaian dilakukan.
Efek rambatnya terasa sampai ke industri aset digital dan layanan pembayaran modern, yang selama ini berlomba menawarkan efisiensi settlement. Perdebatan seputar jalur pembayaran—baik berbasis bank maupun kripto—juga ikut memanaskan diskusi publik tentang standar, risiko, dan interoperabilitas, seperti terlihat pada ragam model pembayaran kripto di Crypto.com. Pada akhirnya, eksperimen BOJ memperlihatkan bahwa masa depan pembayaran tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga soal desain institusional yang mampu bertahan dalam kondisi pasar paling menegangkan.


