PBB kembali melontarkan seruan gencatan senjata segera di sejumlah wilayah konflik Timur Tengah, ketika upaya diplomasi di New York justru berujung kebuntuan. Pada Rabu waktu setempat, Amerika Serikat menjadi satu-satunya anggota Dewan Keamanan yang menolak rancangan resolusi yang menuntut penghentian pertempuran dan pembukaan akses bantuan tanpa pembatasan di Gaza, meski 14 negara lain menyetujuinya. Langkah itu menegaskan kembali bagaimana arsitektur keputusan di DK PBB dapat menghambat agenda penghentian kekerasan meski dukungan internasional menguat. Di lapangan, krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk setelah perang yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, sementara kanal bantuan diperdebatkan tajam, termasuk skema distribusi alternatif yang ditolak PBB. Dari ruang sidang DK PBB hingga perairan Mediterania, dinamika ini memperlihatkan tarik-menarik antara tekanan kemanusiaan, kalkulasi politik, dan klaim perlindungan keamanan yang membuat jalan menuju perdamaian tetap terjal.
Veto AS di DK PBB menggagalkan resolusi gencatan senjata segera untuk Gaza
Pemungutan suara di New York pada 4 Juni 2025 menjadi momen penting: rancangan resolusi yang diajukan 10 anggota tidak tetap DK PBB—Aljazair, Denmark, Yunani, Guyana, Pakistan, Panama, Korea Selatan, Sierra Leone, Slovenia, dan Somalia—mendapat 14 suara setuju, tetapi AS menggunakan hak vetonya. Karena Washington termasuk lima anggota tetap, veto itu otomatis memblokir adopsi resolusi.
Dokumen tersebut menuntut gencatan senjata yang segera, tanpa syarat, dan permanen di Gaza, serta menyerukan pembebasan semua sandera secara “segera, bermartabat, dan tanpa syarat”. Rancangan itu juga meminta dicabutnya seluruh pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan, dengan menyorot kondisi sipil yang kian gawat.
Duta Besar AS untuk PBB Dorothy Shea menyatakan resolusi tersebut, menurut Washington, dapat merusak proses diplomasi yang sedang berjalan dan dinilai tidak memadai karena tidak mengecam Hamas serta tidak menuntut perlucutan senjata. Shea juga menyebut rancangan itu menciptakan “kesetaraan palsu” antara Israel dan Hamas, sementara Israel, menurutnya, sedang menghadapi ancaman yang tetap signifikan hampir 20 bulan setelah serangan Oktober 2023.

Respons negara-negara dan rencana membawa isu ke Majelis Umum
Penolakan AS memicu kritik tajam dari sejumlah negara-negara anggota dewan. Duta Besar China untuk PBB Fu Cong menilai tindakan Israel telah melampaui batas hukum humaniter internasional dan menyebut hambatan berulang dari AS sebagai faktor utama ketidakmampuan DK PBB meredakan konflik di Gaza.
Dari Pakistan, Asim Iftikhar Ahmad menyatakan veto itu akan dikenang sebagai bentuk keterlibatan yang memberi “lampu hijau” bagi keberlanjutan kekerasan. Inggris melalui Barbara Woodward juga mengecam perluasan operasi militer Israel di Gaza dan pembatasan bantuan, yang disebutnya tidak dapat dibenarkan dan tidak proporsional.
Di sisi lain, Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour menyampaikan terima kasih kepada 14 negara pendukung resolusi, sembari menyatakan niat mendorong pemungutan suara di Majelis Umum PBB—forum yang tidak mengenal hak veto. Israel menolaknya: Danny Danon mengatakan langkah itu “tidak ada gunanya” dan menilai rancangan resolusi justru merusak bantuan karena mengabaikan mekanisme kerja yang ada.
Perbedaan tajam ini memperlihatkan betapa satu suara di DK PBB dapat mengubah arah diplomasi, ketika tekanan untuk penghentian kekerasan makin kuat tetapi jalur institusional tetap tersandera.
Krisis kemanusiaan Gaza dan perdebatan akses bantuan di wilayah konflik Timur Tengah
Di luar ruang sidang, perang di Gaza terus menimbulkan dampak kemanusiaan luas. Setelah gencatan senjata Israel-Hamas berakhir pada awal Maret 2025, Israel meningkatkan operasi militernya. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan jumlah korban tewas warga Palestina telah mencapai 54.000.
Israel juga memblokade masuknya bantuan selama lebih dari dua bulan, yang memperparah situasi bagi sekitar 2 juta penduduk Gaza yang sangat bergantung pada bantuan internasional. Pada pertengahan Mei, Israel mengizinkan masuknya sejumlah kecil truk bantuan PBB, namun PBB menyatakan volume tersebut belum memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Kontroversi menguat ketika Israel mendorong penyaluran bantuan melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang didukung AS. PBB menolak skema itu, dengan alasan bertentangan dengan prinsip netralitas, imparsialitas, dan independensi, serta berisiko membuat bantuan menjadi instrumen tekanan. Kepala urusan kemanusiaan PBB Tom Fletcher bahkan menggambarkan dunia menyaksikan warga Palestina “ditembak, terluka, atau terbunuh” saat mencoba mendapatkan makanan, sambil menyerukan agar bantuan masuk segera dan disalurkan oleh badan-badan kemanusiaan.
Diplomasi yang tersendat dan dampaknya ke agenda perdamaian regional
AS berargumen bahwa resolusi DK PBB tidak selaras dengan proses perundingan yang sedang berjalan. Dalam laporan yang beredar luas, Israel disebut menerima kerangka proposal AS terkait syarat-syarat gencatan senjata, sementara Hamas masih menimbang, termasuk karena tuntutan penarikan Israel dari Gaza tidak dikabulkan.
Di tengah itu, Hamas mengecam veto AS. Basem Naim, anggota biro politik Hamas, menyebut langkah Washington memalukan dan mempertanyakan bagaimana penolakan terhadap resolusi dapat dibenarkan jika berpotensi menyelamatkan warga sipil. Veto ini juga tercatat sebagai yang kelima sejak perang pecah pada 2023, termasuk veto AS pada November 2024 terkait Gaza.
Dinamika Gaza ikut membentuk persepsi lebih luas di Timur Tengah: ketika DK PBB buntu, aktor-aktor regional kerap menilai jalur multilateral tidak efektif, sementara risiko eskalasi di wilayah konflik lain meningkat. Di ranah digital, perdebatan ini juga memicu gelombang kampanye, misinformasi, hingga dorongan transparansi data korban dan akses bantuan—sebuah medan baru yang ikut menentukan legitimasi narasi perang.
Dalam konteks ketegangan global yang juga mencakup isu keamanan lain—mulai dari rudal hingga sanksi—pembaca dapat melihat bagaimana isu konflik sering berkelindan dengan dinamika geopolitik yang lebih luas, misalnya dalam laporan mengenai perkembangan rudal balistik Korea Utara yang turut mempengaruhi peta prioritas keamanan di forum internasional.
Ketegangan di laut: kapal Madleen dan seruan penghentian kekerasan di jalur bantuan
Krisis Gaza juga merembet ke perairan Mediterania. Freedom Flotilla Coalition (FFC) melaporkan adanya ancaman terhadap kapal layar Madleen yang berlayar menuju Gaza membawa bantuan dan aktivis, termasuk Greta Thunberg. Kapal itu bertolak dari Sisilia pada 1 Juni 2025, membawa pasokan seperti jus, susu, beras, makanan kaleng, dan protein bar.
FFC menyebut Madleen sempat didekati dan dipantau pesawat nirawak di lepas Kreta, Yunani. Mereka kemudian mendapat informasi bahwa drone tersebut dioperasikan penjaga pantai Yunani, Badan Perbatasan Uni Eropa Frontex, atau keduanya. Pada 3 Juni 2025, militer Israel menyatakan siap melindungi ruang maritimnya; juru bicara militer Effie Defrin mengatakan Angkatan Laut beroperasi siang dan malam, dan perlindungan itu juga berlaku terkait kapal Madleen.
Bagi FFC—gerakan yang diluncurkan pada 2010 dan menggabungkan bantuan kemanusiaan dengan protes politik terhadap blokade—pelayaran itu dimaksudkan sebagai tantangan langsung atas blokade. Namun bagi Israel, upaya semacam itu diposisikan dalam kerangka keamanan. Ketegangan ini memperlihatkan bagaimana akses bantuan, simbol solidaritas, dan kalkulasi militer dapat bertemu di satu titik yang rawan insiden.
Ketika jalur darat dibatasi dan jalur laut diawasi ketat, pertanyaannya bergeser: bagaimana memastikan bantuan mencapai warga sipil tanpa memperluas eskalasi? Di sinilah PBB dan banyak negara-negara kembali menekankan seruan untuk gencatan senjata segera sebagai prasyarat paling mendasar bagi akses kemanusiaan dan peluang perdamaian—bukan hanya di Gaza, tetapi di lanskap konflik Timur Tengah yang lebih luas.
Untuk konteks bagaimana isu keamanan dan konflik sering berkaitan lintas kawasan dalam pembahasan publik, salah satu contoh yang kerap muncul di ruang berita adalah sorotan tentang uji coba dan ancaman rudal balistik, yang memperlihatkan bagaimana agenda keamanan global dapat saling mempengaruhi perhatian diplomatik internasional.


