Sulawesi kembali menghadapi rangkaian bencana hidrometeorologi saat hujan berintensitas tinggi memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah, mendorong operasi evakuasi untuk menyelamatkan warga di zona rawan. Di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, luapan sungai dan runtuhan tebing pada Rabu menyebabkan akses jalan utama antarkawasan tersendat, rumah-rumah tergenang, dan kelompok rentan sempat terjebak sebelum tim gabungan bergerak. Pada hari yang sama, longsor di Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, Jambi, menimpa satu keluarga, menimbulkan korban jiwa dan memaksa pengerahan peralatan pencarian, termasuk drone termal, untuk memastikan tak ada orang tertinggal. Pola kejadian ini memperlihatkan bagaimana cuaca ekstrem yang meluas—termasuk di Sulawesi—memaksa pemerintah daerah, BPBD, dan SAR mempercepat langkah penyelamatan dan penanganan darurat, sembari mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai tebing bergerak atau arus makin tinggi untuk meninggalkan rumah.
Sulawesi mengevakuasi warga saat banjir dan tanah longsor meluas di berbagai daerah
Gelombang cuaca basah beberapa hari terakhir membuat operasi mengevakuasi warga menjadi agenda utama di sejumlah daerah Indonesia, termasuk di Sulawesi yang dilaporkan BNPB mengalami dominasi kejadian banjir dan longsor pada periode 8–9 Mei. Di Sulawesi Tenggara, BPBD Kolaka mengerahkan pompa air dan melakukan pembersihan rumah terdampak, sementara pemerintah Kabupaten Kolaka Timur menetapkan status keadaan darurat bencana banjir karena gangguan yang dinilai mengancam aktivitas masyarakat.
Di Kota Kendari, banjir besar pada Minggu (10/5) dilaporkan menyebabkan satu orang meninggal dan ratusan orang harus dievakuasi dari permukiman yang terendam. Pada saat yang sama, Sulawesi Selatan juga terdampak: banjir disebut melanda Kabupaten Luwu dan Bone, sedangkan longsor di Sidenreng Rappang membuat ratusan warga terisolasi akibat akses jalan antardesa terputus. Rangkaian peristiwa ini menegaskan konsekuensi langsung bagi mobilitas, pasokan logistik, hingga layanan publik, ketika jalan dan jembatan menjadi titik paling cepat lumpuh.

Operasi darurat menegaskan peran BPBD, BNPB, dan SAR di lapangan
Dalam banyak kejadian hidrometeorologi, waktu respons menjadi pembeda antara selamat dan terlambat. Ketika banjir menutup akses dan tanah menjadi labil, koordinasi lintas lembaga—BPBD, Basarnas, TNI-Polri, hingga relawan—menentukan apakah evakuasi dapat dilakukan tanpa menambah risiko bagi petugas maupun warga yang dipindahkan.
Di berbagai daerah yang dilaporkan terdampak, langkah yang berulang terlihat jelas: penilaian cepat kondisi lapangan, pembukaan jalur darurat, pemindahan warga rentan, dan pemantauan potensi susulan. Di fase inilah informasi publik menjadi krusial—mulai dari peringatan agar tidak melintasi jalan yang tertimbun, hingga keputusan menutup sementara titik rawan. Ketika cuaca tak kunjung membaik, kesiagaan posko dan peralatan menjadi penopang utama agar penyelamatan tidak berhenti di satu gelombang saja.
Tanah Datar terdampak banjir dan longsor, jalur utama putus dan warga dievakuasi
Hujan deras sejak sore memicu luapan sungai dan runtuhan tebing di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, yang berdampak pada transportasi dan permukiman. BPBD setempat melaporkan empat kawasan setingkat desa mencatat kerusakan dan genangan paling parah, dengan aktivitas mobilitas publik terganggu karena jalur darat utama antarkawasan permukiman terdampak material longsoran.
Kepala Pelaksana BPBD Tanah Datar, Ermon Revlin, menyampaikan bahwa penyumbatan aliran air darat berujung pada masuknya material tanah ke badan jalan pada Rabu. Ia merinci titik terdampak: di Nagari Padang Ganting terjadi luapan Batang Sungai Pagie, lalu longsor di dua titik di Jalan Bukit Putuih dan satu titik di Jorong Koto Gadang Hilir. Di kawasan Simpang Kubu, enam rumah dilaporkan terdampak banjir.
Dampak sosialnya terlihat saat kelompok rentan sempat terjebak dalam genangan. Ermon menyebut komposisi warga yang sempat terkepung mencakup 15 lansia, seorang ibu hamil, serta balita dan bayi. Dua warung dan satu sepeda motor juga dilaporkan hanyut terbawa arus, menggambarkan bagaimana banjir cepat merusak penghidupan harian, terutama bagi pemilik usaha kecil yang bergantung pada akses jalan dan aktivitas warga sekitar.
Basarnas bergerak malam hari, evakuasi dimulai dari laporan tengah malam
Operasi evakuasi di Tanah Datar juga melibatkan unsur SAR. Koordinator Unit Siaga SAR Tanah Datar, Juni Fiwalman, menjelaskan permohonan bantuan pertama diterima menjelang pergantian hari. Tim diberangkatkan pada pukul 23.03 WIB dengan lima personel dan tiba sekitar 20 menit kemudian untuk melakukan evakuasi warga.
Di lapangan, petugas gabungan dari TNI, Polri, dan relawan lokal menyisir zona merah untuk mengosongkan area berisiko. Strategi ini lazim dilakukan saat tebing masih berpotensi runtuh, karena satu longsoran kecil dapat diikuti pergeseran susulan. Fokus memindahkan warga dari titik rawan menjadi langkah pencegahan agar tidak muncul korban ketika hujan kembali meningkat pada malam hari, saat visibilitas dan akses semakin terbatas.
Longsor Bungo timpa satu keluarga, satu korban meninggal dan operasi penyelamatan pakai drone termal
Di Kabupaten Bungo, Jambi, tanah longsor terjadi di Tanah Tumbuh, Kelurahan Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, pada Rabu (13/5). Hujan dengan intensitas tinggi sejak siang dilaporkan membuat struktur tanah tidak stabil hingga longsor menimbun satu keluarga, memicu penanganan darurat dan pengerahan tim gabungan.
Informasi awal diterima Pos SAR Bungo dari Kabag Ops Polres Bungo, Ajun Komisaris BM Pasaribu, pada pukul 13.35 WIB. Satu unit SRU diberangkatkan menuju lokasi berjarak sekitar 30,7 kilometer dan tiba pada pukul 14.55 WIB. Di lokasi, petugas berkoordinasi dengan perangkat desa dan warga untuk memetakan titik evakuasi, sementara pencarian dilakukan bersama.
Operasi melibatkan 10 personel Pos SAR Bungo, didukung 20 personel gabungan TNI dan Polres Bungo, serta 11 personel BPBD dan Damkar, ditambah Satpol PP dan masyarakat. Setelah penggalian material, tiga korban dari satu keluarga ditemukan: Suryani (40) dievakuasi dalam kondisi selamat, Arya (11) ditemukan meninggal dunia dan diserahkan kepada keluarga, sedangkan Revita (4) ditemukan kritis dan dibawa ke rumah sakit dengan ambulans untuk perawatan intensif.
Sejumlah perangkat dikerahkan, mulai dari Rescue Car, Rescue D-Max, Rescue Truck, peralatan Jungle SAR, hingga perangkat medis. Tim juga menerbangkan Drone Thermal untuk memantau pergerakan tanah dari udara secara real time, sekaligus membantu memastikan tidak ada korban lain tertinggal dan memetakan risiko longsor susulan. Imbauan kewaspadaan disampaikan kepada warga yang bermukim di area rawan, karena pergeseran tanah masih mungkin terjadi ketika hujan kembali mengguyur.


