IMF kembali mengeluarkan peringatan soal arah ekonomi global yang kian rapuh, di tengah perang di Timur Tengah dan tensi perdagangan yang mendorong fragmenisasi di pasar internasional. Dalam laporan prospek terbarunya, lembaga berbasis di Washington DC itu menilai guncangan baru—terutama terkait energi—berisiko menekan pertumbuhan ekonomi dan menghidupkan kembali inflasi. Dampaknya disebut paling terasa bagi negara berkembang yang ruang fiskalnya sempit, sementara negara maju masih menahan suku bunga tinggi. Ketika rantai pasok kembali diuji di titik-titik strategis seperti Selat Hormuz, pertanyaannya bukan lagi apakah volatilitas akan terjadi, melainkan seberapa jauh ketidakpastian ini dapat mengganggu investasi, perdagangan, dan pembiayaan lintas negara. Pada saat yang sama, IMF menekankan kebutuhan kerjasama internasional untuk mencegah “blok-blok” ekonomi semakin mengeras, karena biaya ekonomi dari fragmentasi dinilai bisa meluas dari komoditas hingga teknologi.
IMF dalam World Economic Outlook menurunkan proyeksi dan menyoroti risiko perang Timur Tengah
Dalam edisi terbaru World Economic Outlook, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1% untuk tahun ini. Kepala ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyebut prospek memburuk akibat meningkatnya ketidakpastian serta gejolak harga energi—kombinasi yang sering kali cepat merembet ke biaya logistik, harga pangan, dan keputusan belanja rumah tangga.
Penilaian itu muncul saat konflik di Timur Tengah—yang melibatkan Iran—menambah lapisan baru risiko ekonomi. IMF, sebagaimana diberitakan The New York Times (edisi Rabu, 15 April 2026), menilai perang tersebut berpotensi memperlambat ekonomi dunia, sekaligus menaikkan inflasi dan meningkatkan peluang resesi.
IMF juga memaparkan skenario dampak yang lebih berat jika eskalasi memicu gangguan lebih luas pada pasokan energi. Dalam skenario terburuk, pertumbuhan global disebut dapat turun hingga 2%, sementara inflasi bisa terdorong sampai sekitar 6%. Pesannya jelas: ketika energi terganggu, guncangan jarang berhenti di sektor energi saja.

Gangguan Selat Hormuz mengangkat harga energi dan memperbesar ketidakstabilan ekonomi
Salah satu kanal utama penularan krisis, menurut penjelasan IMF, berada pada pasokan energi yang terganggu di sekitar Selat Hormuz. Ketegangan di kawasan itu mendorong lonjakan harga minyak hingga melampaui 100 dolar AS per barel, disertai kenaikan tajam harga gas dan pupuk.
Kenaikan tersebut cepat terasa di tingkat perusahaan. Bagi pelaku manufaktur, ongkos energi dan pupuk memengaruhi harga bahan baku, tarif pengiriman, hingga biaya pendinginan gudang. Dalam rantai pasok modern yang mengandalkan pengiriman tepat waktu, satu titik macet bisa mengubah proyeksi laba dan mendorong pengetatan belanja modal.
Efek berikutnya menyentuh konsumen: biaya produksi yang meningkat berpotensi menekan daya beli, terutama ketika inflasi jasa dan perumahan belum sepenuhnya turun di banyak negara. Inilah yang memperparah ketidakstabilan ekonomi, karena rumah tangga menahan belanja dan perusahaan menunda perekrutan—dua mesin yang menentukan laju permintaan. Pada tahap itu, volatilitas energi berubah menjadi guncangan makro yang lebih luas.
Rangkaian dampak ini juga menjelaskan mengapa IMF menilai negara berkembang paling rentan. Ketika harga impor naik sementara nilai tukar berfluktuasi, biaya subsidi energi membengkak, dan pembiayaan utang menjadi lebih mahal. Di pasar obligasi, sentimen dapat berubah cepat; kenaikan premi risiko kerap membuat ruang kebijakan menyempit dalam hitungan minggu.
Fragmenisasi ekonomi global menekan pasar internasional dan menguji kerjasama internasional
Di luar perang dan energi, IMF menautkan kerentanan saat ini dengan tren fragmenisasi yang makin terlihat di pasar internasional. Polanya muncul ketika negara memperketat kebijakan perdagangan, memperluas pembatasan strategis, atau mengarahkan rantai pasok ke blok-blok yang dianggap aman. Dalam jangka pendek, langkah itu bisa terlihat sebagai perlindungan, tetapi IMF memperingatkan biaya sistemiknya dapat meningkat melalui harga yang lebih tinggi dan efisiensi yang menurun.
Di sektor digital, fragmentasi tidak selalu berbentuk tarif; ia bisa hadir sebagai perbedaan standar, pembatasan aliran data, atau aturan yang memecah pasar layanan lintas negara. Dampaknya terasa pada investasi, karena perusahaan teknologi dan pelaku cloud harus menambah biaya kepatuhan serta membangun infrastruktur ganda. Akibatnya, daya saing bisa makin terkonsentrasi pada pemain besar, sementara pendanaan bagi startup—terutama di negara berkembang—lebih mudah tersendat saat suku bunga global tetap tinggi.
IMF menekankan bahwa respons kebijakan yang efektif membutuhkan kerjasama internasional, mulai dari menjaga jalur logistik tetap aman, memperkuat ketahanan sistem keuangan, hingga koordinasi untuk mengurangi guncangan harga energi dan pangan. Sejarah krisis minyak dekade 1970-an kerap dijadikan rujukan tentang bagaimana guncangan energi dapat mengubah arah inflasi dan kebijakan moneter selama bertahun-tahun; bedanya, kini efeknya menyebar lebih cepat karena keterhubungan rantai pasok dan pasar keuangan digital.
Dalam kerangka itu, pesan IMF pada pembuat kebijakan dan pelaku usaha serupa: menilai risiko ekonomi tidak cukup dengan satu indikator. Ketika konflik, energi, dan fragmentasi bergerak bersamaan, ketahanan ditentukan oleh seberapa cepat negara dan perusahaan membaca transmisi guncangan—dan seberapa kuat koordinasi untuk menahan dampaknya sebelum merembet lebih jauh.


