Manajer investasi ARK Invest memperjelas perubahan posisi-nya terhadap aset digital lewat laporan riset tahunan “Big Ideas”. Di tengah pasar yang masih bergejolak namun makin terhubung dengan arus modal institusi, ARK memaparkan narasi bahwa kripto tidak lagi semata ruang spekulasi, melainkan bagian dari arsitektur teknologi finans yang sedang dibangun di atas blockchain publik. Perusahaan yang dipimpin Cathie Wood itu menempatkan Bitcoin sebagai jangkar utama, sambil menilai jaringan kontrak pintar seperti Ethereum dan Solana sebagai lapisan aplikasi yang berpotensi menggerakkan pendapatan, penggunaan stablecoin, hingga tokenisasi aset dunia nyata. Dalam pembaruan pandangannya, ARK memproyeksikan nilai pasar gabungan aset digital bisa mencapai US$28 triliun pada 2030, dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 60%. Proyeksi tersebut disandarkan pada meningkatnya adopsi institusional, bertumbuhnya pasar stablecoin, serta makin jelasnya peta regulasi di Amerika Serikat yang dinilai mendorong lembaga keuangan mengevaluasi ulang strategi mereka. Bagi pelaku investasi, riset ini ikut memengaruhi cara menyusun portofolio dan strategi diversifikasi di pasar digital yang kian sulit dipisahkan dari keuangan arus utama.
ARK Invest dan pembaruan posisi aset digital lewat Big Ideas
Dalam “Big Ideas”, ARK menegaskan bahwa konvergensi blockchain, adopsi institusional, dan kejelasan aturan adalah kombinasi yang mengubah aset kripto dari “ceruk” menjadi infrastruktur keuangan. Yang disebut sebagai perubahan posisi itu terlihat dari kerangka valuasi yang dipakai: bukan sekadar menilai proyek berdasarkan narasi, melainkan mengaitkannya dengan peran sebagai penyimpan nilai, utilitas jaringan, dan skala penggunaan.
ARK memperkirakan Bitcoin tetap dominan dan bisa mewakili sekitar 70% dari total pasar aset digital pada 2030. Dalam skenario itu, kapitalisasi pasar Bitcoin diproyeksikan meningkat dari kisaran US$2 triliun menjadi sekitar US$16 triliun, seiring tesis “emas digital” yang dinilai makin diterima lembaga besar.
Di sisi lain, ARK menempatkan jaringan kontrak pintar—dengan Ethereum dan Solana sebagai rujukan utama—sebagai pendorong sisa pertumbuhan. Untuk kategori ini, ARK memproyeksikan nilai pasar bisa menuju sekitar US$6 triliun pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 54% dan potensi pendapatan tahunan sekitar US$192 miliar pada biaya rata-rata 0,75%. ARK juga menilai hanya dua hingga tiga platform lapisan pertama (L1) berpeluang menyerap porsi terbesar, sementara valuasi mereka dinilai lebih dipengaruhi “premi moneter” ketimbang pendekatan arus kas tradisional—sebuah pembacaan yang menantang cara lama menilai aset keuangan.

Adopsi institusional, ETF, dan pergeseran strategi portofolio
Bagian yang paling konkret dari argumen ARK datang dari data kepemilikan institusi. Menurut laporan tersebut, pada 2025 gabungan kepemilikan Bitcoin oleh ETF dan perusahaan publik di AS mencapai sekitar 12% dari total pasokan, naik dari kurang dari 9% setahun sebelumnya. Dalam periode yang sama, kepemilikan ETF disebut tumbuh 19,7% dari sekitar 1,12 juta menjadi 1,29 juta BTC, sementara kepemilikan perusahaan meningkat 73% dari sekitar 598.000 menjadi 1,09 juta BTC.
Dampaknya bukan cuma pada likuiditas, tetapi juga cara risiko dipersepsikan. ARK mencatat penurunan harga Bitcoin dari rekor tertinggi menjadi relatif lebih moderat sepanjang 2025, sejalan dengan porsi investor institusi yang lebih besar. Dalam kerangka mereka, volatilitas yang lebih “terkendali” itu memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai dalam periode tertentu—meski tetap berada dalam kelas kriptokurensi yang sensitif terhadap sentimen.
Di pasar, cerita semacam ini kerap diterjemahkan menjadi keputusan taktis. Seorang manajer aset ritel di Asia, misalnya, bisa menjadikan eksposur kripto sebagai bagian kecil dari portofolio untuk diversifikasi, namun mengandalkan instrumen yang lebih familier secara operasional seperti ETF atau produk terstruktur. Pendekatan itu menjelaskan mengapa pembahasan tentang kendaraan investasi kripto terus bergeser dari “bisa atau tidak” menjadi “bagaimana risikonya diukur”, termasuk lewat produk manajer aset besar sebagaimana dibahas dalam liputan produk investasi kripto Grayscale.
Untuk memperkaya konteks institusional, perhatian pasar juga tertuju pada peran pengelola dana global dalam membentuk standar tata kelola dan infrastruktur kustodi, termasuk diskusi mengenai langkah BlackRock di aset digital. Ketika pemain semacam ini aktif, batas antara eksperimen dan adopsi arus utama menjadi semakin tipis.
Tokenisasi, stablecoin, dan kompetisi blockchain di pasar digital
ARK menilai pertumbuhan stablecoin dan tokenisasi aset dunia nyata sebagai katalis kunci yang dapat membuat pasar digital semakin “terpakai”, bukan sekadar diperdagangkan. Dalam laporan itu, ARK menyebut kejelasan regulasi di AS mendorong institusi finansial meninjau ulang strategi stablecoin dan tokenisasi, sekaligus mengangkat volume transaksi stablecoin ke skala yang dinilai menyaingi, bahkan berpotensi melampaui, jaringan pembayaran warisan tertentu.
Tokenisasi juga ditempatkan sebagai jembatan antara keuangan tradisional dan on-chain. ARK memproyeksikan nilai aset yang ditokenisasi—termasuk surat utang pemerintah AS, komoditas, hingga pada tahap berikutnya saham—berpotensi melampaui US$11 triliun pada 2030. Dalam bacaan ini, penerbit kripto-native dan ekosistem DeFi mulai mempersempit jarak dengan fintech arus utama dari sisi efisiensi pendapatan dan relevansi institusional, meski skala dan kepatuhan masih menjadi pekerjaan rumah.
Kompetisi antarrantai pun ikut menentukan arah. Ethereum, misalnya, tetap menjadi rujukan bagi banyak inovasi kontrak pintar dan standardisasi aplikasi, dengan ekosistem pengembang yang terus menjadi sorotan publik. Dinamika ini tercermin dalam pembahasan mengenai pengembangan Ethereum oleh Consensys, yang menjadi salah satu indikator bagaimana infrastruktur dan tooling berkembang mengikuti kebutuhan institusi.
Sementara itu, stablecoin menjadi jalur masuk yang lebih “praktis” bagi banyak pelaku usaha dan pengguna, karena lebih dekat ke kebutuhan pembayaran dan manajemen kas. Perkembangan penerbit seperti Circle dan USDC kerap dipantau sebagai barometer kesehatan pasar stablecoin, termasuk isu cadangan dan kepatuhan—sebuah topik yang terus muncul dalam pembahasan Circle dan stablecoin USDC. Pada titik ini, pertanyaan yang mengemuka bukan lagi apakah tokenisasi akan terjadi, melainkan seberapa cepat institusi memindahkan proses penerbitan, kliring, dan pencatatan kepemilikan ke blockchain publik.


