Ethereum kembali menjadi pusat perhatian setelah data on-chain pada Januari menunjukkan aktivitas harian di mainnet sempat melampaui jaringan penskalaan populer. Lonjakan ini terjadi tak lama setelah peningkatan protokol Fusaka pada Desember yang menekan biaya, sehingga lebih banyak transaksi menjadi ekonomis dilakukan langsung di rantai utama blockchain tersebut.
Namun, gambaran “kembalinya pengguna” ke mainnet tidak sepenuhnya sederhana. Sejumlah analis menilai sebagian kenaikan metrik bisa dipengaruhi praktik penyalahgunaan seperti address poisoning dan dusting, terutama lewat transfer stablecoin bernilai sangat kecil yang menambah jumlah alamat aktif tanpa selalu mencerminkan permintaan organik. Di tengah pasar kripto yang masih sensitif terhadap pergerakan likuiditas dan volume, dinamika ini ikut memengaruhi cara pelaku industri membaca sinyal jaringan, serupa dengan bagaimana pelaku pasar memantau fluktuasi volume pada aset besar seperti Bitcoin melalui laporan seperti pantauan fluktuasi volume Bitcoin.
Alamat aktif Ethereum naik di Januari, menyalip jaringan layer 2 utama
Menurut Token Terminal, jumlah alamat aktif harian di Ethereum naik mendekati 1 juta pada awal Januari. Angka itu bahkan sempat menembus 1,3 juta pada 16 Januari sebelum turun dan bertahan di kisaran 950.000.
Secara perbandingan, capaian tersebut menempatkan mainnet di depan beberapa jaringan layer 2 yang selama ini dikenal lebih murah, termasuk Arbitrum, Base, dan OP Mainnet. Perubahan ini menjadi pembalikan parsial dari narasi beberapa tahun terakhir, ketika sebagian penggunaan aplikasi terdesentralisasi dan transfer aset banyak bergeser ke L2 demi biaya rendah dan konfirmasi lebih cepat.
Metrik alamat aktif sendiri lazim dipakai untuk memotret penggunaan jaringan di luar pergerakan harga token. Dompet yang mengirim atau menerima aset, atau berinteraksi dengan kontrak pintar pada rentang waktu tertentu, dihitung sebagai alamat aktif, sehingga indikator ini sering dipakai untuk menilai “kesibukan” riil pada blockchain.
Peningkatan Fusaka dan biaya murah mendorong transaksi stablecoin, tapi metrik bisa bias
Kebangkitan ini dikaitkan dengan peningkatan protokol Fusaka pada Desember yang disebut menurunkan biaya transaksi dan membuat aktivitas langsung di mainnet kembali menarik. Dalam praktiknya, ongkos yang lebih rendah terutama mendorong penggunaan stablecoin, yang tetap menjadi salah satu kasus pemakaian dominan untuk transfer harian.
Di sinilah konteks menjadi penting. Biaya rendah memang mendukung skalabilitas dari sisi pengalaman pengguna, tetapi sekaligus menurunkan “hambatan ekonomi” untuk aktivitas yang tidak diinginkan. Ketika ongkos mengirim transaksi menjadi murah, pelaku spam juga lebih mudah melakukan kampanye masif.
Seorang peneliti keamanan, Andrey Sergeenkov, menulis bahwa lonjakan Januari selaras dengan meningkatnya aktivitas dusting—pengiriman stablecoin bernilai kecil ke banyak dompet. Praktik ini kerap terkait address poisoning, yakni teknik membuat alamat palsu yang mirip dengan alamat korban, lalu mengirim “debu” agar alamat tersebut muncul di riwayat transaksi korban.
Mekanismenya mengeksploitasi kebiasaan pengguna yang menyalin alamat dari riwayat transaksi, bukan dari sumber tepercaya. Sekali korban salah salin, dana dapat terkirim ke alamat penyerang. Dalam analisis Sergeenkov, jumlah alamat Ethereum baru sempat naik ke sekitar 2,7 juta pada pekan puncak 12 Januari, sekitar 170% di atas tingkat normal, dan sekitar dua pertiga di antaranya menerima debu sebagai transaksi stablecoin pertama—indikasi kuat adanya pencemaran metrik.
Dampak bagi ekosistem layer 2, keamanan pengguna, dan strategi industri
Lonjakan mainnet tidak otomatis berarti solusi layer 2 kehilangan relevansi. Justru, arsitektur berlapis tetap menjadi fondasi strategi Ethereum untuk mempertahankan desentralisasi sambil meningkatkan throughput: transaksi berbiaya rendah dan cepat diproses di L2, lalu hasil akhirnya diselesaikan ke Layer 1 untuk keamanan.
Kasus Januari memperlihatkan dua konsekuensi bagi sektor. Pertama, industri perlu lebih hati-hati membaca metrik “kasar” seperti alamat aktif tanpa menyandingkannya dengan sinyal lain, misalnya pola nilai transfer, jenis aplikasi yang dominan, dan indikator serangan. Kedua, keamanan pengguna kembali menjadi isu pengalaman: biaya murah yang mendorong adopsi juga memperluas permukaan serangan sosial yang memanfaatkan kebiasaan menyalin alamat.
Kerugian yang dikonfirmasi dari kampanye ini dilaporkan melampaui US$740.000, dengan sebagian besar dana berasal dari sedikit korban. Biaya rendah pasca-Fusaka dinilai membuat kampanye semacam itu lebih layak, karena penyerang dapat mengirim transaksi dalam skala besar dengan ongkos awal terbatas.
Bagi pelaku industri—mulai dari bursa kripto, penyedia dompet, hingga proyek DeFi—insiden seperti ini sering mendorong pengetatan fitur peringatan alamat, penyaringan transaksi dusting, serta edukasi pengguna. Di sisi pasar, perusahaan yang memperluas jangkauan internasional juga kerap memantau dinamika jaringan dan risiko operasional, karena perilaku pengguna on-chain dapat berubah cepat saat biaya dan insentif bergeser, sejalan dengan lanskap bisnis yang dibahas dalam ekspansi pasar internasional OKX.
Pada akhirnya, data Januari menegaskan satu hal: ketika biaya turun dan skalabilitas meningkat, interpretasi metrik harus ikut matang. Aktivitas yang terlihat padat bisa berarti adopsi yang kembali menguat—atau sekadar kebisingan yang memerlukan pembacaan lebih teliti.


