Perubahan selera investor kripto dalam beberapa tahun terakhir memaksa pemain lama di pasar NFT untuk menata ulang strategi. OpenSea, yang sempat identik dengan ledakan NFT pada puncak siklus 2021, kini menempatkan dirinya sebagai agregator perdagangan aset onchain yang lebih luas, ketika minat terhadap koleksi digital menurun tajam dan likuiditas berpindah ke instrumen kripto lain. Di tengah perubahan pasar itu, perusahaan melakukan penyesuaian produk dan kebijakan agar tetap relevan: dari fokus marketplace seni dan koleksi, menjadi layanan yang menggabungkan order dari berbagai bursa terdesentralisasi untuk memfasilitasi transaksi digital lintas jaringan.
Langkah ini muncul saat volatilitas masih menjadi ciri utama ekosistem. Beberapa koleksi papan atas mengalami koreksi besar, sementara sebagian aset lain menunjukkan pemulihan yang lebih stabil. Bagi pengguna ritel, pergeseran ini terasa seperti “pindah etalase”: dari berburu gambar profil populer ke berburu peluang di token, meme coin, dan aset onchain lain. OpenSea menilai arah baru itu bukan sekadar respons defensif, melainkan upaya menempatkan perusahaan di jantung arus perdagangan kriptokurensi yang kian multi-rantai. Pertanyaannya: seberapa jauh reposisi ini bisa menjaga basis kreator dan kolektor yang membesarkan nama OpenSea sejak awal?
OpenSea menyesuaikan kebijakan dan posisi dari platform NFT ke agregator kripto multi-chain
Dalam reposisi terbarunya, OpenSea mengubah fokus dari platform NFT tunggal menjadi agregator perdagangan kriptokurensi yang lebih luas. Perusahaan menyatakan dukungan untuk blokchain multi-rantai dan mengarahkan pengalaman pengguna agar tidak hanya berkutat pada koleksi digital, tetapi juga aset onchain lain yang lebih aktif diperdagangkan.
Di tingkat mekanisme, OpenSea mengumpulkan penawaran beli dan jual dari berbagai bursa terdesentralisasi, lalu memonetisasi aktivitas tersebut lewat biaya transaksi sekitar 0,9%. Model ini menempatkan OpenSea sebagai “pintu depan” untuk likuiditas lintas protokol, alih-alih bergantung pada satu segmen pasar yang siklusnya terbukti ekstrem.
CEO Devin Finzer menggambarkan langkah itu sebagai strategi bertahan sekaligus investasi jangka panjang untuk perdagangan aset digital. Bagi pengguna, narasinya sederhana: satu antarmuka untuk menavigasi aset di banyak jaringan. Bagi OpenSea, ini berarti diversifikasi pendapatan di tengah pasar yang tidak lagi didorong euforia koleksi semata.

Penurunan tajam sejak puncak 2021 menjadi pemicu penyesuaian strategi
Setelah puncak 2021, volume perdagangan NFT di industri dilaporkan merosot lebih dari 90% dari level tertingginya, membuat banyak marketplace menghadapi tekanan biaya dan kompetisi. OpenSea tidak luput: perusahaan memangkas jumlah staf lebih dari setengah ketika pendapatan tertekan dan aktivitas koleksi digital melemah.
Di sisi lain, pasar tidak pernah benar-benar “mati”; ia berubah bentuk. OpenSea mencatat adanya kenaikan aktivitas perdagangan kripto pada 2025, yang kemudian dipakai sebagai landasan untuk memperluas cakupan. Bagi sebagian pengguna lama, perubahan itu terasa seperti pergeseran identitas; namun bagi trader baru, OpenSea mencoba tampil sebagai gerbang yang lebih praktis menuju aset onchain lintas jaringan. Pada titik ini, perusahaan bertaruh bahwa skala dan kemudahan akan mengalahkan nostalgia era awal.
Peralihan dari “gallery commerce” ke perdagangan aset yang lebih luas juga memunculkan efek samping: fokus yang melebar menuntut kejelasan tentang prioritas produk, terutama bagi komunitas kreator yang selama ini sensitif pada isu royalti dan insentif. Bagian berikutnya menunjukkan mengapa ketegangan ini menjadi salah satu ujian utama dalam reposisi OpenSea.
Pasar NFT masih fluktuatif saat koleksi besar terpukul, sementara sebagian pulih
Meski beberapa metrik menunjukkan pemulihan parsial, pasar NFT tetap bergerak tidak stabil. Koleksi populer seperti Bored Ape Yacht Club mengalami penurunan harga yang tajam dibanding periode puncaknya, menggambarkan bagaimana status sosial digital yang dulu menjadi pendorong utama kini kalah oleh siklus risiko yang lebih luas di kripto.
Namun tidak semua koleksi bergerak seragam. CryptoPunks dan Pudgy Penguins disebut menunjukkan tanda pemulihan, memperlihatkan bahwa “blue chip” tertentu masih bisa mempertahankan narasi nilai, entah karena kelangkaan, sejarah budaya internet, atau strategi komunitas yang lebih adaptif.
Dilema royalti dan kepercayaan kreator ikut membayangi perubahan pasar
Di ekosistem NFT, royalti kreator selama bertahun-tahun menjadi fondasi argumen bahwa transaksi digital bisa memberikan pendapatan berkelanjutan bagi seniman. Karena itu, setiap penyesuaian kebijakan yang berpotensi mengurangi kepastian royalti kerap memantik perdebatan—bukan hanya soal bagi hasil, tetapi soal legitimasi model NFT itu sendiri.
OpenSea berada di posisi sulit: memperluas produk untuk menangkap arus perdagangan yang lebih besar, tanpa terlihat meninggalkan kreator yang membawa mereka ke arus utama. Dalam praktiknya, reputasi marketplace di mata komunitas sering ditentukan oleh detail kecil—mulai dari bagaimana listing dikelola, bagaimana metadata diperlakukan, hingga bagaimana aturan kompensasi dipahami pengguna ritel. Pada pasar yang sudah jenuh, kepercayaan menjadi “likuiditas” yang tidak bisa dibeli cepat.
Di sinilah OpenSea harus membuktikan bahwa transformasi multi-aset tidak otomatis membuat pengalaman NFT menjadi anak tiri. Jika tidak, perpindahan pengguna ke layanan lain dapat terjadi tanpa perlu drama besar—cukup lewat penurunan aktivitas harian.
Dari dinamika koleksi, perhatian kini bergeser ke pertanyaan lebih teknis: bagaimana OpenSea membangun produk baru yang menyatukan banyak jaringan tanpa mengorbankan kontrol pengguna. Jawabannya terletak pada pendekatan non-kustodial dan rencana ekspansi ke mobile.
Taruhan OpenSea pada perdagangan non-kustodial, dukungan 22 blockchain, dan rencana mobile
Reposisi OpenSea menonjol lewat pendekatan non-kustodial, di mana pengguna tetap memegang kendali atas asetnya. Dalam lanskap kripto yang berkali-kali diguncang oleh kegagalan platform terpusat, penekanan pada kontrol pengguna menjadi pesan yang relevan, terutama bagi trader yang menuntut fleksibilitas lintas jaringan.
OpenSea menyebut dukungan untuk 22 blockchain sebagai bagian dari transformasi, dengan tujuan mengurangi friksi saat pengguna berpindah ekosistem. Di lapangan, kebutuhan ini muncul karena likuiditas dan komunitas tidak lagi berkumpul di satu rantai; tren bisa bergeser cepat, dan platform yang tidak lintas jaringan berisiko tertinggal.
Integrasi pembayaran dan pengalaman aplikasi menjadi kunci perebutan pengguna ritel
Perusahaan juga menyiapkan aplikasi mobile dan menyebut integrasi seperti Apple Pay untuk menjembatani transaksi fiat ke kripto. Jika dieksekusi mulus, langkah ini dapat menurunkan hambatan masuk bagi pengguna baru yang selama ini menganggap onboarding dompet dan jaringan sebagai proses yang melelahkan.
OpenSea menyatakan program penghargaan mereka telah menjangkau lebih dari 1 juta dompet, sebuah sinyal bahwa insentif masih efektif mendorong eksperimen pengguna di produk baru. Namun, di sektor yang sensitif terhadap biaya dan pengalaman, retensi akan ditentukan oleh hal yang lebih mendasar: kecepatan eksekusi, kejelasan biaya, dan keandalan integrasi lintas blokchain. Pada akhirnya, taruhan OpenSea bukan hanya pada tren, melainkan pada kemampuan menjadikan kompleksitas multi-chain terasa sederhana.


