Ripple melanjutkan pengembangan dalam pembayaran lintas batas

ripple terus mengembangkan solusi pembayaran lintas batas yang cepat dan aman untuk mempermudah transaksi internasional.

Ripple melanjutkan pengembangan bisnisnya di ranah pembayaran lintas batas dengan menata ulang identitas perusahaan dan merapikan fokus produk ke area yang dinilai paling siap dipakai pasar: pembayaran global, kustodian aset digital, dan stablecoin. Langkah ini dipublikasikan pada 14 Februari melalui unggahan di X, ketika perusahaan penerbit XRP itu menegaskan kembali visinya tentang “Internet of Value”—sebuah gagasan bahwa nilai dapat berpindah secepat informasi di internet. Di saat regulator di Amerika Serikat terus membentuk ulang lanskap aset digital, Ripple juga memperbarui situs web serta kanal media sosialnya untuk menegaskan arah baru tersebut. Yang paling mencolok, referensi soal proyek CBDC di situs perusahaan tidak lagi ditampilkan, berbeda dari periode ketika Ripple aktif menggarap pilot, termasuk di Palau, dan meluncurkan platform CBDC pada 2023.

Di lapangan, strategi ini diterjemahkan ke model operasional yang lebih dekat dengan kebutuhan perusahaan pengirim uang dan korporasi multinasional: memadukan blockchain dan infrastruktur keuangan tradisional tanpa memaksa klien memegang aset digital secara langsung. Ripple masih mengandalkan XRP Ledger untuk mempercepat penyelesaian transaksi, namun di saat yang sama mendorong penggunaan stablecoin—baik untuk efisiensi likuiditas maupun kepatuhan. Bagi pelaku remittance dan digital payment, pertaruhannya jelas: biaya, kecepatan, dan kepastian penyelesaian semakin menjadi pembeda di koridor pengiriman nilai yang selama ini mahal dan lambat.

Rebranding Ripple dan penajaman fokus produk pembayaran lintas batas

Dalam pengumuman rebranding pada 14 Februari, Ripple menekankan komitmen membangun sistem keuangan global yang lebih efisien. Pembaruan ini tidak sekadar kosmetik: perusahaan menyederhanakan narasi layanan agar lebih menonjolkan tiga pilar, yakni pembayaran lintas batas, kustodian aset digital, dan stablecoin.

Kerangka ini selaras dengan kebutuhan perusahaan yang mengelola transfer uang internasional dalam skala besar, termasuk pengaturan likuiditas multi-mata uang. Ripple memposisikan jaringan berbasis blockchain sebagai cara untuk mempersingkat waktu penyelesaian, terutama pada koridor yang selama ini mengandalkan rantai perantara panjang.

ripple terus mengembangkan solusi pembayaran lintas batas untuk mempermudah dan mempercepat transaksi internasional dengan teknologi inovatif.

Penajaman fokus itu terjadi ketika industri aset digital juga menghadapi dinamika kepatuhan di berbagai yurisdiksi. Di Eropa, misalnya, pembahasan soal standar kepatuhan bursa dan penyedia layanan terus bergulir; konteks ini ikut membentuk cara pemain teknologi keuangan merancang produk lintas negara. Sejumlah perkembangan tersebut dapat dibaca seiring dengan isu kepatuhan yang menonjol di ekosistem, seperti yang disorot dalam laporan tentang kepatuhan Bitstamp di Eropa dan pembaruan aturan pendaftaran di otoritas pasar, termasuk pembaruan pendaftaran kripto oleh AMF.

Jika rebranding adalah sinyal, maka pesan yang ingin disampaikan Ripple ke pasar adalah konsistensi: perusahaan ingin dinilai sebagai penyedia infrastruktur pembayaran, bukan sekadar entitas yang terkait volatilitas aset kripto. Pada titik ini, fokus produk menjadi bagian dari strategi menghadapi periode regulasi yang semakin detail.

Kemitraan Ripple dan Convera dorong model stablecoin untuk penyelesaian transaksi

Ripple juga mengumumkan kolaborasi dengan Convera, perusahaan pembayaran komersial, untuk menghadirkan solusi pembayaran lintas batas dan perbendaharaan yang didukung aset digital bagi bisnis. Dalam skema ini, Ripple memasok infrastruktur blockchain dan komponen penyelesaian, sementara Convera mengelola pengalaman pelanggan serta orkestrasi transaksi.

Inti kemitraan tersebut adalah model yang disebut “stablecoin sandwich”. Transaksi dimulai dan berakhir dalam mata uang fiat, namun proses penyelesaian di tengah menggunakan stablecoin yang diregulasi, sehingga perusahaan bisa mendapat kecepatan blockchain tanpa harus mengelola aset digital secara langsung.

Dalam pernyataan yang menyertai pengumuman, Aaron Slettehaugh, SVP Produk di Ripple, menekankan tujuan memberi bisnis lebih banyak kontrol atas bagaimana dan kapan nilai dipindahkan lintas negara. CEO Convera Patrick Gauthier, pada kesempatan yang sama, menyebut pendekatan bertahap sebagai respons atas meningkatnya kehadiran mata uang digital seperti kripto dan stablecoin.

Untuk perusahaan dengan arus kas global—misalnya importir yang harus membayar pemasok dalam jam, bukan hari—model ini menawarkan jalur tengah: efisiensi digital payment berbasis blockchain, namun dengan titik masuk dan keluar yang tetap “akrab” bagi tim treasury. Dampaknya paling terasa pada wilayah yang infrastrukturnya belum seragam, tempat biaya korespondensi bank masih tinggi dan kepastian settlement sering menjadi masalah.

RLUSD, ekspansi kustodian, dan sinyal bergeser dari CBDC di strategi Ripple

Dari sisi produk, Ripple meluncurkan stablecoin Ripple USD (RLUSD) pada Desember sebelumnya. Berdasarkan data CCData yang disebutkan dalam materi terkait, RLUSD sempat mencapai kapitalisasi pasar sekitar US$108,6 juta dan mencatat volume perdagangan lebih dari US$3 triliun dalam satu bulan. Angka volume tersebut menempatkan RLUSD sebagai instrumen yang cepat memperoleh aktivitas pasar, meski kapitalisasi pasarnya masih relatif kecil dibanding stablecoin terbesar.

Di saat yang sama, Ripple memperluas langkah ke bisnis kustodian setelah mengakuisisi Standard Custody pada tahun sebelumnya. Perusahaan menautkan ekspansi ini dengan meningkatnya minat institusional pada aset digital, serta peluang pasar kustodian yang kerap diproyeksikan bernilai sangat besar—Ripple menyebut estimasi US$20 triliun untuk segmen tersebut.

Perubahan lain yang diamati adalah pemangkasan referensi terkait CBDC dari situs web Ripple. Sebelumnya, perusahaan diketahui terlibat dalam pilot CBDC, termasuk di Palau, dan merilis platform CBDC pada 2023. Kini, penekanan yang lebih kuat pada stablecoin dan pembayaran korporasi memberi sinyal penyesuaian prioritas: dari proyek yang bergantung pada keputusan pemerintah, menuju produk yang bisa digerakkan oleh kebutuhan pasar.

Ripple juga memperkuat jaringan operasionalnya lewat kemitraan dengan Unicâmbio, penyedia penukaran mata uang asal Portugal, untuk memungkinkan pengiriman uang instan antara Portugal dan Brasil menggunakan solusi berbasis blockchain. Bagi pelaku remittance, contoh koridor ini kerap dijadikan tolok ukur sederhana: apakah sistem baru benar-benar memangkas waktu, mengurangi biaya, dan memperkecil friksi konversi valuta?

Ke depan, keberhasilan strategi Ripple akan banyak ditentukan oleh dua hal: seberapa mulus integrasi dengan infrastruktur pembayaran global yang sudah ada, dan seberapa cepat kerangka kepatuhan di berbagai negara memberi ruang bagi stablecoin untuk dipakai dalam skenario bisnis sehari-hari.