Snap mengumumkan pembaruan pada format iklan berbasis augmented reality untuk Snapchat, menandai dorongan baru perusahaan dalam memadukan kreativitas, belanja, dan hiburan di media sosial. Langkah ini datang ketika merek semakin menuntut cara beriklan yang tidak hanya terlihat, tetapi juga bisa “dicoba” dan diukur secara lebih presisi—dari berapa lama orang berinteraksi hingga tindakan lanjutan seperti kunjungan ke situs atau pembelian. Bagi Snap, taruhan utamanya jelas: memperkuat posisi iklan berbasis teknologi AR sebagai pembeda di pasar yang juga diperebutkan platform besar lain. Bagi pengiklan, pembaruan ini membuka opsi kreatif untuk mengubah kampanye dari sekadar tayangan menjadi pengalaman interaktif yang relevan dengan konteks pengguna, misalnya saat mereka mencoba lensa wajah, memindai lingkungan sekitar, atau berinteraksi dengan objek 3D. Di lapangan, format seperti iklan AR sering dipakai untuk peluncuran produk, promosi film, hingga aktivasi ritel—karena mampu memindahkan narasi merek langsung ke kamera ponsel. Pertanyaannya, seberapa jauh pembaruan ini bisa mendorong efektivitas digital marketing ketika atensi pengguna makin sulit direbut?
Snap memperbarui format iklan augmented reality di Snapchat untuk memperluas pengalaman interaktif
Dalam pengumumannya, Snap menegaskan fokus pada pembaruan format iklan yang memanfaatkan augmented reality agar kampanye terasa lebih “hidup” di Snapchat. Di ekosistem Snap, AR bukan fitur tambahan: ia menjadi fondasi yang menghubungkan kamera, kreasi kreator, dan kebutuhan brand untuk tampil menonjol di feed maupun area kamera.
Secara praktis, pembaruan ini diarahkan agar pengiklan lebih mudah menghadirkan pengalaman interaktif—misalnya lewat aktivasi berbasis lensa (Lens) yang mendorong pengguna berpartisipasi alih-alih hanya menonton. Dalam industri, pendekatan ini dipakai untuk kategori seperti kecantikan (mencoba warna lipstik secara virtual), mode (fit check dengan overlay), dan hiburan (filter bertema peluncuran). Ujungnya tetap sama: membuat iklan terasa seperti fitur, bukan gangguan.
Di sisi pasar, dorongan terhadap iklan AR juga mencerminkan pergeseran ekspektasi pengiklan di media sosial. Kampanye kini sering dinilai dari kualitas interaksi, bukan hanya jangkauan. Bagi Snap, memperkuat portofolio AR menjadi cara mempertahankan relevansi di tengah kompetisi perhatian dan belanja iklan digital yang ketat.

Teknologi AR dan format iklan baru menjadi strategi Snap di tengah persaingan media sosial
Pembaruan dari Snap tidak bisa dilepaskan dari lanskap persaingan media sosial yang semakin mengandalkan format imersif. AR menawarkan sesuatu yang berbeda: ia mengubah kamera menjadi panggung. Ketika platform lain bertarung di ranah video pendek dan rekomendasi algoritmik, Snap berupaya menegaskan identitasnya lewat teknologi AR yang terintegrasi sejak pengguna membuka aplikasi.
Dalam praktiknya, pengiklan sering mencari format yang memberi “momen mencoba” sebelum membeli. Di sinilah format iklan berbasis augmented reality punya nilai: pengalaman dapat terjadi dalam hitungan detik, tanpa meninggalkan aplikasi. Seorang manajer kampanye di agensi—sebut saja Rani—biasanya menghadapi dilema klasik: materi iklan harus cepat dipahami, tapi juga cukup menarik untuk memicu aksi. AR kerap dipilih saat klien ingin mengubah peluncuran produk menjadi pengalaman, bukan sekadar poster digital.
Strategi ini juga beririsan dengan tren pengukuran. Pengiklan cenderung menyukai format yang bisa dilacak dari interaksi ke konversi. Maka, pembaruan yang mempermudah adopsi AR atau memperkaya pilihan kreatif berpotensi mendorong alokasi anggaran yang lebih stabil, terutama untuk kampanye musiman seperti akhir tahun atau peluncuran film besar. Pada akhirnya, AR menjadi bahasa baru untuk merebut perhatian—dan Snap ingin tetap fasih mengucapkannya.
Diskusi publik tentang arah iklan AR di Snapchat juga ramai di kanal video, terutama dari kreator dan praktisi digital marketing yang membedah perubahan format serta dampaknya pada produksi kreatif dan strategi media buying.
Dampak pembaruan format iklan AR bagi digital marketing, kreator, dan pengiklan
Bagi industri digital marketing, pembaruan format iklan berbasis augmented reality biasanya membawa dua konsekuensi langsung: kebutuhan produksi kreatif yang lebih spesifik dan peluang diferensiasi kampanye yang lebih besar. Di satu sisi, AR menuntut perencanaan aset—mulai dari desain 3D hingga pengujian lintas perangkat. Di sisi lain, ketika dieksekusi tepat, AR bisa mengangkat kampanye dari sekadar “iklan yang lewat” menjadi pengalaman yang sengaja dicari.
Kreator juga ikut terdampak. Ekosistem Snapchat selama ini dekat dengan budaya lensa—dari tren filter wajah hingga aktivasi bertema pop culture. Saat Snap memperkaya opsi iklan, batas antara konten kreator dan materi brand kerap menjadi lebih cair. Brand dapat menggandeng kreator untuk membuat lensa yang terasa organik, sementara Snap diuntungkan oleh meningkatnya aktivitas kreatif yang memperkuat daya tarik platform.
Untuk pengiklan, pembaruan ini bisa memengaruhi cara menyusun funnel. AR lebih cocok ditempatkan pada fase consideration dan intent karena mendorong eksplorasi. Rani, misalnya, cenderung memasangkan AR dengan materi video singkat sebagai “pemantik”, lalu mengarahkan audiens yang sudah berinteraksi ke format yang lebih performance-driven. Strategi semacam ini memanfaatkan AR sebagai alat persuasi, bukan sekadar gimmick.
Pada titik ini, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa orang melihat iklan, tetapi apakah pengalaman interaktif itu meninggalkan memori—dan memicu tindakan—di tengah kebisingan media sosial.


