Amazon Ads mengumumkan perluasan iklan untuk format iklan video di Prime Video, dengan tiga format baru yang menargetkan pengalaman menonton di ruang keluarga. Langkah ini diumumkan menjelang agenda Upfront Amazon pada 2025 di New York, ketika para pengiklan dan pemilik merek menunggu peta jalan terbaru untuk belanja media di layanan video streaming. Amazon menempatkan pembaruan ini sebagai cara memperluas inventaris dan interaktivitas iklan di konten video yang didukung iklan, saat persaingan platform streaming kian ketat dan belanja iklan digital bergerak ke layar TV terhubung.
Taruhannya besar: Amazon menyebut paket Prime Video yang didukung iklan kini memiliki lebih dari 130 juta penonton Prime Video bulanan di AS. Skala itu memberi daya tawar baru bagi Amazon sebagai platform iklan yang menghubungkan impresi di TV dengan perilaku belanja dan respons langsung. Bagi pengiklan, pertanyaannya bukan lagi sekadar “berapa banyak yang menonton”, tetapi “aksi apa yang bisa terjadi dari sofa”—mulai dari menambahkan produk ke keranjang hingga mengirim detail penawaran ke ponsel. Di tengah perubahan cara orang menemukan informasi dan bertransaksi, termasuk lewat pencarian di aplikasi lain, konteks ini sejalan dengan dinamika pergeseran perilaku pencarian di TikTok yang ikut mengubah strategi pemasaran online.
Amazon Ads merilis tiga format iklan video baru untuk Prime Video
Dalam pengumumannya, Amazon Ads memperkenalkan tiga format yang akan mengisi jeda dan momen interaksi saat orang menonton Prime Video versi ad-supported. Pertama adalah Pause Ads, iklan yang muncul ketika penonton menekan tombol jeda. Amazon menyatakan format ini akan memakai AI agar materi yang tampil relevan dengan adegan atau konteks tontonan yang sedang berlangsung, sebuah pendekatan yang mengandalkan sinyal dari konten video untuk menyesuaikan pesan.
Format kedua adalah Shoppable Ads untuk produk yang dijual di Amazon. Saat iklan diputar di perangkat ruang keluarga, penonton bisa memilih tombol seperti “add to Amazon cart” untuk memasukkan barang tanpa harus keluar dari tayangan. Dalam praktiknya, skenario ini menarget momen “niat beli spontan”: misalnya, ketika iklan peralatan dapur muncul di sela acara kuliner, tindakan bisa terjadi dalam hitungan detik.
Ketiga, Amazon juga memperluas iklan belanja untuk merek yang tidak berjualan di Amazon melalui Off-Amazon Shoppable Ads. Amazon menyebut adanya tombol ajakan bertindak seperti “subscribe” atau “book now”, termasuk opsi “send to phone” agar penonton dapat menerima informasi lebih lanjut di ponsel. Ini menandai upaya mendorong transaksi atau lead di luar ekosistem toko Amazon, tanpa meninggalkan jalur pengukuran iklan di layar TV.

Konteks pasar video streaming dan dorongan interaktivitas iklan digital
Perubahan ini muncul saat layanan video streaming makin mengandalkan model didukung iklan untuk menyeimbangkan biaya konten dan pertumbuhan pelanggan. Di sisi pengiklan, Connected TV menjadi kanal yang menggabungkan jangkauan televisi dengan mekanisme targeting dan pengukuran khas iklan digital. Amazon, dengan jejak e-commerce dan data transaksi, mencoba menutup jarak antara impresi dan pembelian—sesuatu yang sejak lama menjadi obsesi industri.
Amazon menekankan kemampuan interaktif yang diaktifkan lewat remote perangkat ruang keluarga. Untuk tim media, ini mengubah cara merancang materi: iklan tidak lagi sekadar video 15–30 detik, tetapi unit yang bisa memicu tindakan. Seorang pemasar merek elektronik, misalnya, dapat menguji materi yang berbeda untuk kategori penonton yang berbeda, lalu melihat apakah tombol “kirim ke ponsel” lebih efektif dibanding “tambahkan ke keranjang” pada jam tayang tertentu. Ini juga menuntut sinkronisasi kreatif, data, dan pengukuran, topik yang sering dibahas dalam forum industri menjelang musim Upfront.
Di ranah pemasaran online, tren interaktif di TV berjalan paralel dengan perubahan discovery di platform lain. Ketika pencarian dan rekomendasi semakin dipengaruhi video pendek dan algoritme, brand kian bergantung pada pesan yang kontekstual dan mudah ditindaklanjuti—sebab perhatian penonton makin mahal. Pola yang dibahas dalam fitur pencarian yang berkembang di TikTok memperlihatkan bahwa “menemukan” dan “membeli” semakin dekat jaraknya; Amazon kini membawa logika itu ke layar TV.
Dampak perluasan iklan Prime Video bagi pengiklan dan ekosistem platform iklan
Bagi pengiklan, tambahan format ini memperluas opsi di Prime Video dari sekadar slot video tradisional menjadi inventaris yang bisa memanen respons langsung. Pause Ads berpotensi menukar momen pasif menjadi titik perhatian tinggi, karena layar berhenti dan fokus tidak terbagi dengan adegan. Namun, efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh relevansi kreatif dan seberapa “halus” overlay tampil agar tidak terasa mengganggu pengalaman menonton.
Untuk merek yang berjualan di Amazon, Shoppable Ads menawarkan jalur terpendek dari awareness ke pembelian. Di sisi lain, bagi brand di luar marketplace, tombol “book now” atau “subscribe” memberi cara menangkap lead tanpa memaksa penonton mengetik URL di TV. Dalam praktik kampanye, tim performance bisa mengukur kontribusi TV terhubung ke funnel yang biasanya didominasi ponsel, termasuk memindahkan pengguna dari layar besar ke perangkat pribadi melalui “send to phone”.
Secara lebih luas, langkah Amazon memperkuat posisinya sebagai platform iklan yang menggabungkan inventaris premium, sinyal konteks dari konten video, dan jalur aksi yang terhubung ke perangkat lain. Pertanyaannya kini: apakah format-format ini akan mendorong standar baru di industri, atau memicu perlombaan fitur serupa di layanan streaming lain? Yang jelas, dengan basis penonton Prime Video yang diklaim menembus 130 juta streamer bulanan di AS untuk paket ad-supported, Amazon sedang menegaskan bahwa TV terhubung bukan lagi kanal terakhir dalam rencana media, melainkan titik transaksi yang semakin nyata.


