Circle kembali menambah daftar kemitraan untuk memperluas penggunaan stablecoin USDC, di saat pasar kripto semakin menuntut aset yang likuid, transparan, dan mudah dipakai lintas platform. Setelah pengumuman kerja sama strategis dengan Binance pada 11 Desember 2024, penerbit USDC itu juga mengumumkan perjanjian dengan Safe Foundation untuk mendorong adopsi USDC di ranah blockchain, khususnya di DeFi dan penyimpanan mandiri institusional. Dua langkah ini menempatkan USDC lebih dekat ke pusat aktivitas transaksi aset digital—mulai dari perdagangan ritel di bursa besar hingga kebutuhan treasury institusi yang mengandalkan infrastruktur on-chain. Di tengah kompetisi ketat dengan Tether, strategi Circle menekankan satu benang merah: memperkuat utilitas USDC sebagai “uang internet” yang dapat bergerak cepat, lebih murah, dan semakin terintegrasi ke sistem keuangan global, termasuk untuk skenario pembayaran lintas batas yang selama ini mahal dan lambat melalui jalur perbankan konvensional.
Circle dan Binance memperdalam integrasi USDC di ekosistem bursa kripto
Kerja sama Circle dengan Binance diumumkan pada 11 Desember 2024, dengan pesan utama: mempercepat adopsi USDC dan penggunaan aset kripto secara lebih luas. Dalam rencana integrasi yang dipaparkan dalam pemberitaan saat itu, Binance menyiapkan langkah memperdalam pemakaian USDC di produknya, termasuk membuka pasangan perdagangan baru berbasis USDC, menghadirkan program promosi untuk transaksi yang menggunakan stablecoin tersebut, serta memanfaatkan USDC dalam pengelolaan perbendaharaan korporat.
Meski Binance tidak mempublikasikan angka cadangan USDC yang akan dipegang, pendekatan bertahap yang disampaikan menegaskan bahwa stablecoin ini tidak sekadar “alat parkir dana” bagi trader. Di pasar yang bergerak 24 jam, stablecoin berperan seperti jalur cepat: memindahkan nilai antar produk dalam satu ekosistem tanpa harus berulang kali keluar-masuk fiat.
Dalam konteks persaingan, data yang beredar pada periode pengumuman itu menempatkan Tether sebagai pemimpin pasar stablecoin global, sementara USDC berada di posisi berikutnya. Kolaborasi dengan bursa bertrafik besar seperti Binance menjadi salah satu cara paling langsung untuk memperbesar pangsa penggunaan USDC di perdagangan harian. Pertanyaannya, apakah dorongan likuiditas di bursa cukup untuk mengubah peta? Jawabannya bergantung pada seberapa “menempel” USDC pada arus transaksi pengguna, bukan hanya pada listing pasar.

Stabilitas, kepatuhan, dan perang utilitas di pasar stablecoin
CEO Circle, Jeremy Allaire, menyoroti peran stablecoin dalam membentuk sistem keuangan modern, termasuk untuk pembayaran lintas batas yang lebih cepat dan efisien, serta sebagai alternatif lindung nilai di pasar negara berkembang yang rentan inflasi. Di sisi Binance, CEO Richard Teng menekankan aspek stabilitas dan keamanan USDC sebagai prioritas dalam kerja sama tersebut—sebuah penekanan yang sejalan dengan meningkatnya perhatian regulator terhadap tata kelola aset digital.
Di level industri, arah ini berkelindan dengan tren yang lebih luas: platform kripto mencoba menampilkan diri sebagai bagian dari infrastruktur pembayaran, bukan sekadar tempat spekulasi. Sejumlah perusahaan juga berlomba mempermudah jalur pembayaran lintas negara; pembaca dapat melihat dinamika itu melalui laporan terkait ekspansi pembayaran kripto oleh Crypto.com dan pembahasan mengenai pembayaran lintas batas yang digarap Ripple. Pada titik ini, kompetisi stablecoin pada akhirnya adalah kompetisi “dipakai untuk apa”—dan seberapa mulus pengalaman pengguna saat memindahkan nilai.
Circle dan Safe Foundation menempatkan USDC di jantung penyimpanan mandiri institusional
Di jalur yang berbeda dari bursa, Circle juga mengumumkan kemitraan strategis dengan Safe Foundation untuk mempercepat adopsi USDC di DeFi dan penyimpanan mandiri (self-custody) bagi institusi. Safe dikenal sebagai infrastruktur dompet kontrak pintar yang digunakan luas, dan dalam pengumuman tersebut disebut mengamankan lebih dari $60 miliar aset digital. Yang paling menonjol, kontrak pintar Safe dilaporkan menyimpan sekitar $2,5 miliar USDC, memperlihatkan bahwa stablecoin itu sudah menjadi “bahan bakar” penting bagi operasi on-chain skala besar.
Kerja sama ini memposisikan Safe sebagai opsi “penyimpanan institusi untuk USDC”, dengan fokus pada kebutuhan treasury: kontrol akses yang ketat, proses persetujuan bertingkat, serta kemampuan terhubung ke likuiditas DeFi tanpa mengorbankan tata kelola internal. Dalam lanskap investasi aset digital, banyak organisasi kini menuntut pengamanan yang menyerupai standar perbankan, tetapi tetap kompatibel dengan eksekusi transaksi di blockchain.
Safe juga menyebut perannya dalam ekosistem Ethereum: platform ini mendukung lebih dari 4% transaksi berbasis Ethereum. Angka itu membantu menjelaskan mengapa Circle memilih jalur kemitraan infrastruktur—bukan hanya kemitraan distribusi—untuk memperluas utilitas USDC. Ketika alat penyimpanan dan tata kelola dipakai luas, stablecoin yang menjadi standar di dalamnya berpotensi ikut terdorong secara organik.
Dari treasury ke pasar modal on-chain: apa yang dikejar institusi
Dalam rilis yang sama, Chief Commercial Officer Circle Kash Razzaghi menekankan bahwa kontrak pintar Safe dapat membekali organisasi dengan perangkat yang dibutuhkan untuk beroperasi di “generasi berikutnya” pasar modal on-chain. Dari sisi Safe, salah satu pendirinya, Lukas Schor, menyoroti arus uang institusi yang mengarah ke self-custody dan DeFi, sekaligus kebutuhan akan alat yang aman dan dapat diskalakan.
Safe melaporkan pertumbuhan aktivitas yang besar: volume transaksi native mencapai $1 triliun, sementara volume perdagangan di seluruh kontrak pintar Safe mencapai rekor $189,6 miliar pada kuartal pertama yang disebut dalam rilis tersebut. Safe juga melaporkan total transaksi kontrak pintar menembus 116,7 juta pada kuartal yang sama, dengan lebih dari $26,2 miliar volume decentralized exchange (DEX). Angka-angka ini memperlihatkan konteks penting: institusi tidak hanya “datang” ke kripto, tetapi mulai membangun kebiasaan operasional—dari penyimpanan, persetujuan, sampai eksekusi transaksi—di atas infrastruktur yang bisa diaudit.
Tren regulasi turut mendorong perubahan perilaku. Di Eropa, misalnya, isu kepatuhan bursa dan standar operasional menjadi sorotan tersendiri, tercermin dalam bahasan langkah kepatuhan Bitstamp di Eropa. Bagi Circle, memperkuat kemitraan dengan pemain infrastruktur seperti Safe menjadi cara untuk menjawab tuntutan pasar: keamanan, kontrol, dan jejak audit yang lebih rapi.
IPO Circle dan konsekuensi bagi industri pembayaran digital dan kripto
Di luar rangkaian kemitraan, Circle juga mencatat tonggak penting ketika menyelesaikan IPO pada bulan Juni dan tercatat di New York Stock Exchange (NYSE). Peristiwa ini disebut sebagai listing publik besar pertama untuk penerbit stablecoin, yang mempertegas pergeseran stablecoin dari produk pinggiran menjadi bagian dari infrastruktur keuangan digital yang lebih mapan.
Bagi sektor, kombinasi status perusahaan publik dan ekspansi kemitraan mengubah cara pelaku industri menilai stablecoin. USDC tidak hanya dinilai dari kapitalisasi pasar, tetapi juga dari jaringan distribusi (bursa), titik pemakaian (pembayaran dan perdagangan), serta “pipa” teknisnya (wallet kontrak pintar dan integrasi DeFi). Dalam praktiknya, ini memengaruhi cara perusahaan fintech menyusun strategi settlement, bagaimana bursa merancang pasangan perdagangan, hingga bagaimana institusi mengelola kas dalam denominasi dolar di atas blockchain.
Dengan Binance yang memperdalam integrasi dan Safe yang menjadikan USDC bagian inti dari infrastruktur penyimpanan mandiri, Circle mempertaruhkan satu hal: bahwa masa depan transaksi digital akan semakin bergeser ke rel on-chain. Jika taruhan itu tepat, peta kompetisi stablecoin tidak lagi ditentukan oleh siapa yang terbesar, melainkan siapa yang paling tak tergantikan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari di ekosistem kripto.


