Chainalysis mempublikasikan analisis tentang aliran kripto yang terkait aktivitas ilegal

chainalysis merilis analisis mendalam mengenai aliran kripto yang berhubungan dengan aktivitas ilegal, memberikan wawasan penting untuk keamanan dan transparansi transaksi digital.

Firma analitik blockchain Chainalysis merilis analisis terbaru yang menyoroti bagaimana aliran kripto yang beririsan dengan aktivitas ilegal masih menyisakan jejak besar di ekosistem aset digital. Dalam temuan yang dikutip dari laporan kejahatan kripto mereka, nilai transaksi yang mengalir ke dompet kripto ilegal sepanjang 2024 tercatat US$40,9 miliar, dengan estimasi akhir yang bisa mendekati US$51 miliar seiring pembaruan metode pelacakan. Di saat yang sama, Chainalysis juga mencatat saldo aset kripto yang terkait aktivitas terlarang telah melampaui US$75 miliar—angka yang mempertegas mengapa isu keamanan digital, kepatuhan, dan pendeteksian kejahatan menjadi agenda utama regulator maupun pelaku industri. Yang menarik, laporan yang sama menekankan bahwa porsi transaksi terlarang hanya 0,14% dari seluruh aktivitas on-chain pada 2024, jauh di bawah estimasi pencucian uang di sistem keuangan tradisional menurut UNODC yang berkisar 2–5% PDB global. Kontras inilah yang membuat diskusi soal risiko kripto sering memanas: skalanya relatif kecil, namun transparansi blockchain membuatnya lebih mudah terlihat, dilacak, dan diperdebatkan.

Chainalysis memetakan saldo US$75 miliar dan pergeseran aset dalam transaksi ilegal

Dalam pembacaan Chainalysis, total saldo kripto yang berasosiasi dengan kejahatan menembus US$75 miliar. Dari jumlah itu, sekitar US$15 miliar disebut berada dalam kendali langsung entitas ilegal, sementara lebih dari US$60 miliar tersimpan di dompet yang terhubung dengan mereka—sebuah gambaran tentang bagaimana jaringan kriminal membangun “cadangan” aset yang tidak selalu bergerak setiap hari, tetapi dapat diaktifkan kapan saja.

Laporan itu juga menyoroti bahwa operator dan vendor pasar darknet menguasai lebih dari US$40 miliar aset kripto on-chain. Sekitar 75% dari nilai ilegal tersebut berada di Bitcoin, meski porsi stablecoin dalam transaksi ilegal disebut terus meningkat. Dalam praktiknya, stablecoin memberi kemudahan valuasi dan transfer cepat lintas platform, sementara Bitcoin tetap dipakai untuk kategori tertentu seperti ransomware dan pasar gelap.

chainalysis menerbitkan analisis mendalam mengenai aliran kripto yang terkait dengan aktivitas ilegal, membantu memahami dan mengatasi kejahatan di dunia digital.

Bagi aparat, transparansi ini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, setiap perpindahan dana di blockchain publik meninggalkan rekam jejak yang dapat diproses sebagai intelijen; di sisi lain, publik juga melihat “angka besar” tanpa konteks, padahal pangsa aktivitas terlarang relatif kecil dibanding total volume on-chain. Di titik ini, laporan Chainalysis menempatkan isu penyitaan aset digital sebagai arena strategis baru yang mulai diperhitungkan negara.

Aliran kripto ke dompet ilegal mencapai US$40,9 miliar pada 2024, didorong layanan pencucian modern

Chainalysis mencatat nilai aliran kripto menuju dompet yang diidentifikasi terkait kriminalitas mencapai US$40,9 miliar pada 2024, dengan proyeksi akhir mendekati US$51 miliar berdasarkan pola revisi historis saat label dan klaster alamat terus diperbarui. Angka-angka ini menegaskan bahwa ekosistem kejahatan tidak statis: ia beradaptasi mengikuti celah di bursa, dompet, hingga layanan perantara.

Salah satu contoh yang disebut dalam temuan mereka adalah Huione Guarantee, yang digambarkan berperan sebagai infrastruktur bagi pelaku penipuan dan pencucian dana. Sejak 2021, layanan tersebut dilaporkan telah memproses lebih dari US$70 miliar transaksi kripto. Model “infrastruktur kriminal” seperti ini dinilai mempersulit pengawasan karena menawarkan akses mudah ke jasa perantara, seolah-olah membangun rantai pasok untuk kejahatan digital.

Di Indonesia, isu lintas-batas ini ikut menjadi perhatian karena aktivitas kripto jarang berhenti di satu yurisdiksi. Sejumlah pembaca dapat melihat konteks arus dana lintas negara dan tantangan pelacakan melalui ulasan terkait aliran dana kripto lintas internasional, yang menunjukkan bagaimana perpindahan aset dapat terjadi cepat melalui banyak platform. Pada akhirnya, semakin panjang rute dana, semakin besar kebutuhan koordinasi antarpenegak hukum dan pelaku industri agar jejaknya tidak hilang di tengah fragmentasi layanan.

Ransomware, penipuan berbasis AI, dan peluang penyitaan: arah baru pendeteksian kejahatan di blockchain

Laporan Chainalysis menempatkan kriminalitas siber berbasis kripto dalam spektrum yang makin beragam. Ransomware masih disebut sebagai ancaman signifikan dengan arus dana ilegal bernilai ratusan juta dolar pada 2024, meski kampanye untuk tidak membayar tebusan mulai mengubah perilaku sebagian korban. Di saat yang sama, penipuan kripto berkembang lebih cepat, termasuk pola pig butchering dan skema investasi imbal hasil tinggi yang mengandalkan pendekatan jangka panjang untuk membangun kepercayaan.

Yang paling mengkhawatirkan, menurut temuan mereka, adalah pemanfaatan AI untuk serangan yang lebih personal—mulai dari pemerasan seksual hingga teknik untuk membantu melewati prosedur KYC. Dalam konteks pendeteksian kejahatan, ini memaksa industri analitik dan bursa memperbarui model risiko: bukan hanya mendeteksi alamat, tetapi juga pola perilaku, relasi antar-dompet, dan koneksi ke layanan perantara.

Chainalysis menekankan bahwa keterbukaan blockchain memberi peluang yang “belum pernah ada” bagi penegak hukum karena dana terlarang berada di jaringan publik dan secara teori dapat disita jika koordinasi berjalan efektif. Pernyataan CEO dan salah satu pendiri Chainalysis, Jonathan Levin, kepada Bloomberg juga dikutip dalam materi terkait, bahwa skala ini membawa potensi penyitaan ke level baru dan mengubah cara negara memandang masalah tersebut. Contoh tindakan penegakan pun muncul di berbagai negara; dalam materi yang sama disebut polisi Kanada pernah menyita US$40 juta dalam operasi yang dilaporkan sebagai rekor penyitaan kripto.

Jika sebelumnya fokus utama adalah memblokir titik masuk dan keluar di bursa, kini perhatian juga bergeser ke penyedia infrastruktur dan penerbit stablecoin. Beberapa penerbit, termasuk Tether, diketahui aktif membekukan aset yang terhubung dengan aktivitas terlarang, menandai bahwa mitigasi risiko bergerak dari level kepatuhan pasif menuju intervensi yang lebih langsung.

Dengan porsi aktivitas terlarang yang kecil namun bernilai besar, pertanyaannya menjadi: seberapa cepat ekosistem bisa menutup ruang gerak pelaku tanpa mengorbankan inovasi? Temuan Chainalysis menunjukkan jawabannya bergantung pada satu hal yang sering terlambat dilakukan—kolaborasi lintas platform, lintas negara, dan lintas disiplin, dari analitik on-chain sampai kebijakan keamanan digital.