Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengingatkan bahwa dunia menghadapi peningkatan kasus penyakit menular di beberapa jalur sekaligus, dari tuberkulosis hingga campak, pada saat sistem kesehatan masih menutup kesenjangan layanan pascapandemi. Peringatan itu muncul seiring data global yang menunjukkan beban penyakit yang belum turun signifikan dan risiko wabah yang kembali membesar ketika cakupan layanan dasar, pelacakan, dan vaksinasi tidak merata. Di banyak negara, gangguan layanan selama COVID-19 meninggalkan “utang kesehatan”: diagnosis terlambat, terapi terputus, dan kelompok rentan yang semakin sulit dijangkau. Di saat yang sama, mobilitas yang pulih cepat dan kepadatan kota mempercepat transmisi penyakit, memaksa pemerintah memperkuat manajemen krisis tanpa bergantung pada pembatasan luas seperti isolasi sosial. Pada konteks inilah WHO menekankan kembali fokus pada deteksi dini, pencegahan berbasis bukti, serta penguatan laboratorium dan surveilans agar sinyal kenaikan kasus bisa ditangani sebelum berubah menjadi krisis lintas batas.
Peringatan WHO dan sinyal kenaikan kasus penyakit menular di berbagai wilayah
Dalam Global Tuberculosis Report 2024, WHO menegaskan tuberkulosis (TB) masih menjadi pembunuh menular utama dunia, melampaui COVID-19. Laporan itu mencatat kematian akibat TB turun tipis dari 1,32 juta menjadi sekitar 1,25 juta, termasuk 161.000 kematian pada orang yang hidup dengan HIV.
Namun penurunan kematian yang terbatas itu dibayangi oleh fakta bahwa banyak orang dengan TB belum terjangkau sistem kesehatan tepat waktu. WHO menautkan situasi ini dengan efek berkepanjangan gangguan layanan selama pandemi, ketika penemuan kasus dan pengobatan tertunda, sehingga rantai penularan tetap berjalan.
Risiko wabah juga terlihat pada campak. WHO dan CDC memperkirakan kasus campak global pada 2023 mencapai 10,3 juta, naik 20% dibanding 2022, sebuah angka yang menggambarkan rapuhnya perlindungan populasi ketika cakupan imunisasi turun atau tidak merata. Pada akhirnya, sinyal yang ditangkap WHO bersifat lintas penyakit: ancaman meningkat ketika pencegahan melemah dan deteksi datang terlambat.

TB kembali menekan kesehatan global: fokus negara beban tinggi dan tantangan resistansi obat
WHO menyoroti bahwa delapan negara menyumbang lebih dari dua pertiga kasus TB global: India, Indonesia, Tiongkok, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Republik Demokratik Kongo. Penekanan ini penting karena kebijakan dan kapasitas layanan di negara beban tinggi sangat menentukan arah kesehatan global.
Salah satu titik kritis adalah TB resistan obat. WHO mencatat sekitar 400.000 orang mengembangkan MDR-TB pada 2023, sementara hanya sebagian kecil yang menerima pengobatan tepat waktu. Kesenjangan terapi ini bukan sekadar isu klinis, melainkan persoalan keamanan kesehatan: kasus yang tidak tertangani dapat memperpanjang penularan dan meningkatkan biaya perawatan.
Di sisi lain, ada perkembangan yang dinilai membantu percepatan layanan. WHO melaporkan penerimaan rejimen oral yang lebih singkat BPaLM/BPaL selama enam bulan meningkat dan telah digunakan di 58 negara untuk MDR/RR-TB atau pra-XDR-TB. Meski demikian, WHO juga menekankan keterbatasan akses alat diagnostik cepat dan mendorong perluasan penggunaan tes molekuler agar diagnosis lebih akurat dan cepat, karena keterlambatan diagnosis adalah bahan bakar utama transmisi penyakit.
Di Indonesia, dinamika penyakit menular juga tercermin dari perhatian publik terhadap lonjakan musiman penyakit berbasis vektor. Sejumlah laporan tentang kenaikan kasus DBD di Indonesia menunjukkan bagaimana sistem kesehatan harus menangani beberapa ancaman sekaligus, dari penyakit pernapasan hingga penyakit yang dipengaruhi cuaca dan kepadatan.
Pencegahan penyakit tanpa kembali ke isolasi sosial: vaksinasi, deteksi dini, dan respons cepat
Pelajaran dari beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa manajemen krisis yang efektif tidak selalu identik dengan pembatasan luas. WHO mendorong strategi yang lebih presisi: memperluas skrining di komunitas berisiko, memastikan pengobatan berlanjut, dan memperkuat pelacakan kontak untuk penyakit tertentu, sambil menjaga layanan primer tetap terbuka.
Untuk TB, WHO mencatat kemajuan pada terapi pencegahan (TPT), terutama bagi kontak serumah dari kasus terkonfirmasi. Tetapi laju peningkatan masih perlu dipacu untuk mendekati target cakupan global 90% pada 2027. Intinya jelas: menemukan kasus lebih awal akan mengurangi penularan dan mencegah kerusakan paru jangka panjang, yang sering kali menjadi “biaya tersembunyi” bagi keluarga.
Di sisi penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, kenaikan kasus campak global menjadi pengingat keras bahwa vaksinasi harus dijaga konsisten, termasuk saat perhatian publik terpecah oleh isu lain. Pertanyaannya bukan sekadar apakah vaksin tersedia, tetapi apakah masyarakat bisa mengaksesnya, percaya, dan mendapat informasi yang tepat di saat cepat.
Di tingkat kota, kampanye imunisasi yang terorganisasi tetap menjadi salah satu alat paling konkret untuk menutup celah perlindungan. Contoh langkah berbasis layanan ini terlihat dari inisiatif lokal seperti kampanye vaksinasi di Jakarta, yang menekankan pendekatan jemput bola dan penguatan komunikasi risiko. Dengan cara itu, fokus dapat bergeser dari respons darurat ke pencegahan penyakit yang lebih stabil, sehingga kebutuhan akan isolasi sosial berskala besar makin kecil.
Ketika WHO memperingatkan peningkatan kasus penyakit menular, pesan utamanya bukan kepanikan, melainkan kesiapsiagaan: surveilans yang tajam, layanan yang mudah dijangkau, dan respons cepat sebelum kenaikan kecil berubah menjadi gelombang besar.


