Indonesia Gagal ke-16 Besar Piala Dunia U-17, Terima Kasih Untuk Semua

Kalau saja tidak ada penolakan yang kuat atas Israel di putaran final Piala Dunia U-20, Kaka, Nabil, Ikram, Iqbal, dan kawan-kawan, tidak akan pernah bisa tampil di Piala Dunia U-17.

Indonesia Gagal ke-16 Besar Piala Dunia U-17, Terima Kasih Untuk Semua
M. Nigara, Wartawan Sepakbola Senior

MONDE - Terima kasih Arkhan Kaka, Nabil Asyura, Ikram Algiffari, Iqbal Gwijangge, terima kasih anak-anak. Meski langkah kalian harus berhenti di penyisihan grup Piala Dunia U-17.

Tapi secara khusus, saya sungguh memberi apresiasi sangat tinggi pada kalian semua, tentu termasuk untuk Bima Sakti dan kawan-kawan.

Sebagai wartawan sepakbola senior. Sebagai wartawan yang meliput sepakbola nasional sejak Desember 1979-81 di Majalah Olympik, 1981-84 di Harian Kompas, 1984-94 di tabloid BOLA, dan 1894-2012 di Media GO dan Harian GO Sport, tidak sedikit pun ada rasa kecewa melihat anak-anak kita yang tampil di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Jujur, ada rasa bangga yang menyeruak begitu rupa.

Bayangkan, bisa tampil di Piala Dunia U-17, tidak sebersit pun ada di benak mereka. Tidak ada persiapan yang optimal, apalagi setelah mereka gagal di penyisihan Piala Asia 2023.

Catatan: Timnas Indonesia U-17 gagal ke Piala Asia U-17 2023 usai menjadi runner-up Grup B pada babak kualifikasi. Hal ini terjadi usai Garuda Asia dibantai Malaysia 1-5 dalam laga terakhir Grup B Kualifikasi Piala Asia U-17 2022, di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (9/10/2022).

Kecelakaan
Kalau saja tidak ada penolakan yang kuat atas Israel di putaran final Piala Dunia U-20, Kaka, Nabil, Ikram, Iqbal, dan kawan-kawan, tidak akan pernah bisa tampil di Piala Dunia U-17. Ada beberapa versi terkait pembatalan PD U-20,  hanya saja kasus Israel menjadi yang paling menonjol.

Anehnya, tidak ada angin dan hujan, FIFA tiba-tiba saja menunjuk Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 menggantikan Peru. Secara logika, Indonesia yang baru gagal menjadi tuan rumah, eee kok malah dipercaya.

Kalau saja Presiden FIFA, Gianni Infantino, tidak punya hubungan istimewa dengan Erick Thohir, Ketua Umum PSSI, dan tidak menaruh respek pada Jokowi, Indonesua pasti telah dijatuhi hukuman bukan malah diberi hadiah menjadi tuan rumah menggantikan Peru.

Tiga Bulan
Tentu tidak mudah bagi siapa pun, pamain sehebat apa pun, pelatih sekaliber apa pun, waktu tiga bulan bukanlah waktu yang ideal untuk membuat tim hebat. Apalagi anak-anak kita yang basis teknik serta fisik, pas-pasan. Ditambah lagi metode sepakbola kita belum berubah sejak dulu, saya tak ragu menyebut metode tiba-masa, tiba-akal.

Kita juga bersepakat, tanpa proses yang baik, maka tidak akan ada hasil yang baik. Proses baik saja belum menjamin satu tim akan sukses, apalagi jika prosesnya tidak berjalan sungguh-sungguh.

Dari catatan itu, saya mencoba melihat dari sisi positifnya saja. Sah saja jika ada pihak lain yang ingin melihat dari sisi yang berbeda, itu juga sah saja.

Bagi saya dengan waktu singkat. Dengan pemain yang seadanyaa. Dengan kualitas pelatih terbatas. Dengan jam latihan seadanya. Dengan jam terbang uji coba secukupnya. Maka, dua kali draw versus Equador dan Panama masing-masing 1-1, dan hanya kalah 1-3 dari Maroko, saya juga tak ragu untuk mengucapkan terima kasih.

Awalnya, banyak pihak, apalagi mereka yang tak senang dengan PSSI, lumbung gol atau kalah besar seperti para seniir mereka 1979 yang tampil di Piala Dunia Junior, Tokyo, pasti juga akan menimpa tim Bima Sakti. Jadi, ketika mereka bisa tampil seperti itu, sungguh saya berterimakasih.

Pertanyaannya, apa yang akan dilakukan PSSI kedepan? Itulah inti yang wajib kita ingatkan. Proses yang selama ini seolah terlupakan, wajib diwujudkan. Tanpa itu, maka langkah sepakbola kita akan selalu kembali ke titik nol.

Saya percaya, ke depan, PSSI akan bisa menjalankan dan melalui proses di jalurnya. Tetap semangat anak-anak, terus tingkatkan kemampuan. Jemput masa depanmu dengan baik.....

Bravo sepakbola nasional!

M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior