RT dan RW di Jatijajar Mundur, Bawaslu Tunggu Laporan Warga

RT dan RW di Jatijajar Mundur, Bawaslu Tunggu Laporan Warga

"Kami tidak bisa langsung menindaklanjuti tanpa adanya laporan warga.. "

MONDE--Beredarnya informasi dugaan keberpihakan Lurah Jatijajar, Kecamatan Tapos, kepada salah satu pasangan calon di Pilkada 2020 tidak serta merta membuat Bawaslu Depok percaya begitu saja. 

Menurut Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Depok, Luli Barlini, jika ada tindakan keberpihakan Lurah atau tidak netralnya ASN, warga diharapkan melaporkan langsung.

"Kami tidak bisa langsung menindaklanjuti tanpa adanya laporan warga. Jadi kalau memang ada yang melapor dan ada yang dilaporkan dan semuanya jelas identitasnya disertai KTP si pelapor, baru bisa kami tanggapi. Karena kami tidak mau terjebak. Nanti siapa yang tanggung jawab?" Kata Luli saat dihubungi wartawan via WA, Sabtu (17/10/2020).

"Kami tunggu laporannya dengan syarat-syarat formalnya. Jadi harus ada yang melaporkan dari warga," tegas Luli, seraya mendorong warga agar melaporkan ke Bawaslu jika memang ada bukti keterlibatan ASN di pilkada.

Sebelumnya diberitakan Ketua RW2, Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, Supandi, mengundur diri dari jabatannya. Padahal beberapa hari sebelumnya, ia baru terpilih mengemban jabatan tersebut.
Dia tidak sendiri. Seluruh ketua RT di lingkup RW2 Jatijajar juga melakukan hal yang sama. RT1 sampai RT7. Ini dilakukan lantaran adanya penolakan dari lurah Jatijajar.
 
"Setelah pemilihan, panitia menyerahkan hasilnya ke Kelurahan tapi tidak diterima, dengan alasan ada masyarakat yang merasa keberatan dengan hasil itu," kata Ketua Panitia pemilihan RW, Zainal Abidin seperti dikutip radardepok, Jumat (16/10/2020).

Kemudian, lanjut dia, panitia pemilihan menelusuri masyarakat yang merasa keberatan dengan hasil itu. Justru, ditemukan banyak kejanggalan yang terjadi.
"Setelah kami telusuri, ada beberapa nama dan tanda tangan yang dipalsukan. Padahal pemilihan yang kami lakukan juga dihadiri oleh seluruh stakeholder. Dan memang sudah sepakat kembali memilih Pak Supandi," ujarnya.

Di tempat yang sama, Supandi menduga keras, kejanggalan yang muncul ada kaitannya dengan politik. "Saya rasa ini ada kaitannya dengan politik, karena bisa kita lihat dari orang-orang yang tanda tangan di surat keberatan merupakan pendukung salah satu pasangan calon yang berbeda dengan kami," tutur Supandi.

Atas kondisi ini, ia bersama ketua RT bersepakat mengundurkan diri secara bersamaan, karena merasa tidak dihargai apa yang sudah menjadi keputusan bersama. "Kami datang ke kelurahan untuk menyerahkan surat pengunduran diri, bersama seluruh ketua RT dan juga disaksikan oleh Karang Taruna dan beberapa tokoh masyarakat. Tetapi, ketika kami sampai, Lurah sedang tidak ada dilokasi. Walaupun demikian kami tetap sepakat mengundurkan diri," pungkasnya.*(MC)